Setapak Langkah – 27 Mei 2026 | Krisis yang terus berlarut di Selat Hormuz—jalur laut strategis yang menyumbang sekitar satu pertiga produksi minyak dunia—memaksa pasar minyak global menyesuaikan ekspektasi harga. Analis memprediksi bahwa harga minyak mentah akan tetap berada di atas USD100 per barel dalam beberapa tahun ke depan.
Ketegangan geopolitik, serangan kapal tanker, dan penurunan kapasitas pengiriman melalui selat tersebut mengganggu rantai pasokan minyak. Dengan sebagian besar produksi negara-negara OPEC+ mengalir melalui rute ini, gangguan sekecil apa pun dapat menimbulkan lonjakan harga yang signifikan.
Berikut beberapa faktor utama yang mendorong proyeksi harga tinggi:
- Gangguan transportasi: Penutupan atau pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz mengurangi volume minyak yang dapat diangkut secara aman.
- Ketidakpastian politik: Perseteruan antara Iran dan negara-negara Barat meningkatkan risiko eskalasi militer yang dapat memperburuk situasi.
- Keterbatasan cadangan strategis: Negara-negara konsumen, termasuk Indonesia, harus mengandalkan cadangan minyak strategis yang terbatas untuk menstabilkan pasar domestik.
- Permintaan yang tetap tinggi: Pertumbuhan ekonomi di Asia, terutama China dan India, menambah tekanan pada pasar minyak.
Proyeksi harga di atas USD100 per barel memiliki dampak luas, antara lain:
| Aspek | Dampak |
|---|---|
| Inflasi | Peningkatan harga energi akan menambah beban biaya hidup, terutama bagi rumah tangga berpendapatan rendah. |
| Anggaran Pemerintah | Pemerintah harus menyiapkan subsidi atau kebijakan penyesuaian tarif BBM untuk mengurangi beban konsumen. |
| Industri | Sektor transportasi, manufaktur, dan pertanian akan menghadapi kenaikan biaya produksi. |
| Investasi Energi Terbarukan | Kenaikan harga minyak dapat mempercepat transisi ke sumber energi alternatif. |
Dengan demikian, krisis di Selat Hormuz tidak hanya menjadi isu regional, melainkan faktor penentu stabilitas ekonomi global. Pemerintah Indonesia perlu memperkuat kebijakan energi nasional, meningkatkan diversifikasi sumber energi, serta mengoptimalkan penggunaan cadangan strategis untuk mengantisipasi fluktuasi harga minyak yang berkelanjutan.