Setapak Langkah – 27 Mei 2026 | JAKARTA — Pemerintah Turki kembali menegaskan ambisinya sebagai kekuatan militer regional melalui penyelenggaraan latihan militer multinasional EFES-2026. Latihan ini tidak hanya melibatkan pasukan Turki, melainkan juga sejumlah kelompok bersenjata dari Libya dan Suriah yang sebelumnya berada pada posisi berlawanan.
Dalam edisi kali ini, dua faksi bersenjata Libya yang selama bertahun‑tahun bersaing untuk menguasai wilayah Tripoli dan timur negara itu, yakni Pasukan Nasional Libya (LNA) yang dipimpin Khalifa Haftar dan Pemerintah Nasional Persatuan Libya (GNA) yang didukung PBB, secara resmi berkoordinasi di bawah komando Turki. Kedua belah pihak menandatangani protokol kerjasama pada awal pekan lalu dan menurunkan senjata ringan untuk berlatih taktik gabungan.
Sementara itu, tentara yang dibentuk oleh oposisi Suriah, yang dikenal sebagai Tentara Nasional Suriah (TNA), melakukan debutnya dalam skenario operasional yang melibatkan serangan simulasi di wilayah gurun dekat perbatasan Turki‑Suriah. Penampilan TNA menandai langkah pertama mereka berpartisipasi dalam latihan internasional setelah beroperasi secara terbatas di dalam negeri Suriah.
Berikut rangkaian utama kegiatan EFES-2026:
- Latihan taktik darat, termasuk operasi perkotaan dan perang hutan.
- Simulasi operasi gabungan udara‑daratan dengan dukungan pesawat tempur F-16 Turki.
- Workshop logistik dan intelijen yang melibatkan perwakilan militer dari Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Tengah.
Penggabungan faksi-faksi Libya yang dulunya merupakan musuh bebuyutan menimbulkan pertanyaan strategis mengenai keseimbangan kekuasaan di Afrika Utara. Analis menilai bahwa Turki berupaya menciptakan jaringan aliansi yang dapat menyeimbangkan pengaruh Italia, Prancis, dan Rusia di wilayah tersebut.
Di sisi lain, penampilan TNA memberikan sinyal bahwa Turki ingin memperkuat hubungan militernya dengan kelompok-kelompok yang menentang rezim Assad di Suriah. Hal ini juga menjadi bagian dari strategi Turki untuk menstabilkan perbatasan selatan sekaligus memperluas pengaruh politiknya di kawasan.
Latihan EFES-2026 berlangsung selama dua minggu di pangkalan militer di Provinsi Konya, dengan lebih dari 15.000 personel militer terlibat. Pemerintah Turki menyatakan bahwa tujuan utama latihan adalah meningkatkan interoperabilitas antar pasukan, memperkuat kesiapan menghadapi ancaman terorisme, serta memperluas jaringan pertahanan regional.
Pengamat militer menekankan bahwa meskipun latihan ini bersifat simbolis, dampaknya dapat dirasakan dalam dinamika geopolitik Timur Tengah dan Afrika Utara. Kehadiran faksi-faksi Libya yang bersatu di bawah komando Turki dapat menjadi faktor penyeimbang dalam persaingan antara kekuatan Barat dan Rusia, sementara keterlibatan TNA dapat menambah dimensi baru dalam konflik Suriah.
Seluruh kegiatan diakhiri dengan upacara penutupan yang menampilkan parade militer Turki, diikuti dengan pernyataan resmi yang menegaskan komitmen Ankara untuk terus menjadi “penjaga keamanan regional” melalui kerjasama multinasional.