Setapak Langkah – 16 April 2026 | Baru-baru ini, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menekankan pentingnya membangun pola asuh yang mengedepankan kesetaraan gender di dalam rumah tangga. Hal ini dipicu oleh kasus yang melibatkan FHUI, yang menimbulkan perdebatan luas tentang peran tradisional gender dalam pengasuhan anak.
Latarnya Kasus FHUI
Kasus FHUI menyoroti bagaimana stereotip gender dapat memengaruhi keputusan keluarga dalam mendidik anak. Meskipun detail kasus belum dipublikasikan secara lengkap, respons pemerintah menegaskan bahwa setiap anggota keluarga, baik ayah maupun ibu, harus berperan aktif dalam proses pembelajaran, perawatan, dan pengembangan nilai-nilai moral anak.
Langkah-Langkah Pola Asuh Berbasis Kesetaraan
- Pembagian Tugas Rumah Tangga: Menetapkan pembagian pekerjaan rumah secara adil, tanpa memandang jenis kelamin.
- Partisipasi Aktif Orang Tua: Kedua orang tua harus terlibat dalam kegiatan belajar mengajar, mengantar anak ke sekolah, serta memberi dukungan emosional.
- Pendidikan Nilai Kesetaraan: Mengajarkan anak sejak dini tentang pentingnya menghormati perbedaan peran tanpa menjelekkan salah satu gender.
- Pemantauan dan Evaluasi: Keluarga dapat melakukan evaluasi periodik mengenai pembagian peran dan menyesuaikan bila diperlukan.
Peran Pemerintah dan Lembaga
Kemendukbangga dan BKKBN berkomitmen menyediakan program pelatihan bagi orang tua, termasuk modul daring dan lokakarya di tingkat desa. Program tersebut mencakup materi tentang hak anak, pentingnya komunikasi terbuka, serta strategi mengatasi bias gender dalam lingkungan rumah.
Dampak Jangka Panjang
Jika pola asuh yang setara diterapkan secara konsisten, diharapkan anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang mandiri, memiliki rasa percaya diri tinggi, serta mampu berkontribusi secara setara dalam masyarakat. Selain itu, kesetaraan gender dalam keluarga dapat menurunkan tingkat kekerasan domestik dan meningkatkan kesejahteraan psikologis seluruh anggota rumah tangga.
Kasus FHUI menjadi pengingat bahwa perubahan budaya dimulai dari rumah. Dengan dukungan kebijakan publik dan komitmen keluarga, tercipta generasi yang menghargai kesetaraan dan keadilan gender.