Setapak Langkah – 23 April 2026 | SETARA Institute baru saja meluncurkan Laporan Indeks Kota Toleran (IKT) 2025, sebuah upaya untuk menilai dan mempromosikan praktik toleransi di berbagai kota Indonesia. Laporan ini menyoroti Salatiga, Jawa Tengah, sebagai kota dengan skor tertinggi, menegaskan komitmen daerah tersebut dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan damai.
Metodologi Penilaian
Penilaian dilakukan dengan menggabungkan enam indikator utama yang mencakup dimensi sosial, budaya, ekonomi, dan kebijakan publik:
- Keberagaman etnis dan agama serta interaksi antar kelompok.
- Kebijakan lokal yang mendukung hak minoritas.
- Tingkat kejahatan kebencian dan konflik sosial.
- Partisipasi masyarakat dalam kegiatan lintas budaya.
- Akses pendidikan inklusif.
- Media dan narasi publik yang mempromosikan toleransi.
Hasil Utama
Berikut adalah peringkat lima kota teratas beserta skor masing‑masing dalam skala 0‑100:
| Posisi | Kota | Skor |
|---|---|---|
| 1 | Salatiga | 92,4 |
| 2 | Yogyakarta | 88,7 |
| 3 | Surabaya | 85,3 |
| 4 | Bandung | 82,9 |
| 5 | Semarang | 80,5 |
Salatiga memperoleh skor tertinggi berkat kebijakan pemerintahan daerah yang pro‑aktif, program edukasi toleransi di sekolah, serta inisiatif komunitas yang rutin menyelenggarakan dialog lintas agama. Pemerintah kota juga menyiapkan anggaran khusus untuk pelatihan aparat keamanan dalam menangani potensi konflik sosial.
Implikasi bagi Kebijakan Publik
Indeks ini diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam merumuskan kebijakan yang memperkuat kerukunan. Kota‑kota dengan skor rendah didorong untuk mengadopsi praktik terbaik Salatiga, seperti pelatihan guru toleransi, kampanye media yang positif, dan dukungan terhadap organisasi masyarakat sipil yang memfasilitasi interaksi antar kelompok.
SETARA Institute menegaskan bahwa pengukuran toleransi bukan sekadar angka, melainkan cermin dari kualitas kehidupan bersama. Dengan publikasi IKT 2025, lembaga ini mengajak semua pemangku kepentingan untuk berkolaborasi dalam mewujudkan Indonesia yang lebih inklusif.