Setapak Langkah – 24 Juni 2026 | Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan kembali pada perdagangan Rabu, 24 Juni 2024, setelah munculnya optimisme terkait upaya damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kemajuan dalam perjanjian yang memungkinkan kapal tanker melintasi Selat Hormuz mengurangi ketidakpastian pasokan minyak di pasar internasional.
Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama bagi lebih dari 20% produksi minyak dunia, selama beberapa bulan terakhir menjadi titik rawan karena ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Penutupan atau pembatasan lalu lintas di selat tersebut biasanya memicu lonjakan harga minyak karena diperkirakan akan menurunkan volume ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia.
Berita tentang kemungkinan pembukaan kembali jalur laut ini menurunkan persepsi risiko di kalangan pedagang, sehingga permintaan kontrak berjangka berkurang. Akibatnya, indeks harga Brent turun sekitar USD 2,5 per barel dan harga West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar USD 2,3 per barel pada sesi perdagangan Rabu.
Berikut beberapa faktor yang berkontribusi pada penurunan harga tersebut:
- Progres negosiasi damai antara AS dan Iran yang mengurangi ketegangan politik.
- Pembukaan kembali Selat Hormuz untuk kapal tanker, meningkatkan ekspektasi pasokan minyak.
- Konsolidasi permintaan global yang masih berada pada level moderat akibat pertumbuhan ekonomi yang melambat.
- Kebijakan produksi OPEC+ yang tetap stabil, tanpa tambahan pemotongan.
Data harga minyak mentah sebelum dan sesudah berita dapat dilihat pada tabel berikut:
| Waktu | Brent (USD/barel) | WTI (USD/barel) |
|---|---|---|
| 24 Juni 2024, 08:00 GMT | 84,3 | 80,1 |
| 24 Juni 2024, 16:00 GMT | 81,8 | 77,8 |
Pengamat pasar energi menilai bahwa meskipun penurunan harga ini bersifat sementara, langkah diplomatik antara kedua negara dapat menjadi katalis utama bagi stabilitas harga minyak dalam jangka menengah, terutama bila selat strategis seperti Hormuz kembali beroperasi tanpa gangguan.
Namun, para analis juga memperingatkan bahwa dinamika politik di Timur Tengah masih rentan berubah dengan cepat. Jika ketegangan kembali memuncak, pasar minyak dapat kembali mengalami volatilitas tinggi.