Setapak Langkah – 03 Agustus 2026 | Ketegangan antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza kembali menjadi sorotan internasional setelah Amerika Serikat memediasi sebuah kesepakatan yang mengharuskan Hamas untuk membubarkan dirinya. Kesepakatan tersebut diumumkan pada awal tahun ini, namun mantan duta besar Israel, Alon Pinkas, menyatakan bahwa pihak Israel sama sekali tidak senang dengan langkah tersebut.
Berikut ini beberapa alasan utama mengapa Israel menolak atau meragukan manfaat kesepakatan pelucutan senjata itu:
- Ancaman keamanan yang masih ada – Israel menilai bahwa meskipun Hamas setuju untuk dibubarkan, jaringan militer dan logistiknya tetap dapat beroperasi secara tersembunyi, sehingga risiko serangan tidak hilang.
- Simbolik tanpa efek substansial – Pembubaran organisasi politik tidak otomatis berarti hilangnya struktur bersenjata; banyak pihak berpendapat bahwa keputusan tersebut lebih bersifat simbolik untuk menurunkan tekanan internasional.
- Pengaruh terhadap strategi deterensi Israel – Israel mengandalkan keberadaan Hamas sebagai alasan utama untuk mempertahankan operasi militer dan kebijakan pertahanan yang ketat. Menghilangkan lawan yang jelas dapat melemahkan argumen keamanan internal.
- Kekhawatiran akan jaminan pelaksanaan – Tanpa mekanisme pengawasan yang kuat, Israel khawatir Hamas dapat melanggar kesepakatan secara diam-diam, terutama dalam hal pengiriman senjata atau rekruitmen.
- Dinamika politik domestik – Pemerintah Israel harus mempertimbangkan opini publik yang kuat terhadap Hamas; menerima kesepakatan yang dianggap lemah dapat menurunkan dukungan politik dalam negeri.
Selain alasan‑alasan di atas, Israel juga menyoroti peran Amerika Serikat dalam proses mediasi. Menurut Pinkas, tekanan dari AS untuk menurunkan ketegangan dapat memaksa Israel untuk berkompromi pada hal‑hal yang sebenarnya tidak sejalan dengan kepentingan keamanan nasionalnya.
Kesepakatan pelucutan senjata ini sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang masa depan proses perdamaian di Timur Tengah. Jika Hamas benar‑benar dibubarkan, apakah akan muncul organisasi baru yang mengambil peran serupa? Atau akankah wilayah Gaza tetap berada dalam status quo dengan ketegangan yang terus berulang? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini masih belum jelas, dan Israel tampaknya akan terus memantau perkembangan dengan sikap skeptis.