Setapak Langkah – 01 Juni 2026 | Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali mengingatkan publik untuk tidak melakukan aktivitas apapun di dalam zona bahaya sekitar kawah Lokom di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Peringatan ini dikeluarkan setelah pemantauan intensif menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik yang dapat menimbulkan bahaya letusan mendadak, aliran piroklastik, serta hujan abu.
Kawah Lokom merupakan salah satu gunung berapi aktif yang terletak di wilayah Pegunungan Tambora. Kedalaman kawah mencapai sekitar 500 meter dengan lebar diameter sekitar 800 meter. Pada beberapa tahun terakhir, gunung ini mencatat peningkatan suhu tanah, peningkatan gas belerang, serta frekuensi gempa mikro yang mengindikasikan potensi erupsi.
Berikut ini adalah area yang termasuk dalam radius bahaya dan larangan aktivitas:
- Area 0–1 km dari tepi kawah: dilarang masuk sama sekali karena risiko aliran piroklastik dan material panas.
- Area 1–3 km: hanya diperbolehkan bagi tim penanggulangan bencana dengan peralatan khusus.
- Area 3–5 km: aktivitas terbatas pada observasi ilmiah dengan izin resmi.
Pihak berwenang menekankan beberapa langkah yang harus diikuti masyarakat umum:
- Hindari mendekati zona bahaya, terutama pada malam hari ketika visibilitas berkurang.
- Jika berada di dekat wilayah tersebut, segera tinggalkan area dan ikuti petunjuk evakuasi.
- Perhatikan peringatan resmi yang disampaikan melalui media lokal, aplikasi peringatan dini, dan papan informasi di pintu masuk kawasan.
- Jangan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi yang dapat menimbulkan kepanikan.
Selain itu, ESDM telah menugaskan Tim Penanggulangan Bencana Daerah (TPBD) untuk melakukan patroli rutin, pemasangan peralatan seismik, serta pemantauan kualitas udara. Tim juga menyiapkan posko darurat di desa-desa terdekat guna memberikan bantuan medis dan logistik jika terjadi evakuasi massal.
Sejarah mencatat bahwa letusan Lokom pada tahun 2015 menghasilkan abu yang menyebar hingga 30 km dan mengganggu aktivitas pertanian serta transportasi. Karena itu, kewaspadaan tinggi sangat diperlukan untuk mencegah kerugian lebih lanjut.
Masyarakat diharapkan tetap tenang, mengikuti arahan resmi, dan melaporkan setiap aktivitas mencurigakan kepada petugas setempat. Dengan kolaborasi antara pemerintah, ilmuwan, dan warga, risiko bencana dapat diminimalisir.