Setapak Langkah – 31 Mei 2026 | Baru-baru ini sebuah lagu berjudul My Little Bolu Ketan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Lagu tersebut diproduksi oleh sekelompok anak muda di Solo, Jawa Tengah, dan dengan cepat menyebar melalui platform berbagi video serta aplikasi pesan singkat.
Presiden Joko Widodo menanggapi fenomena tersebut saat berkunjung ke rumahnya di Solo. Dalam sebuah kesempatan santai, Jokowi menyampaikan apresiasi terhadap kreativitas generasi muda yang mampu menciptakan konten musik yang menggelitik sekaligus menghibur. Ia menambahkan, “Saya senang melihat semangat anak‑anak muda kita dalam berkarya, terutama yang mengangkat kearifan lokal seperti bolu ketan.”
Namun, Presiden juga mengklarifikasi bahwa lagu itu bukanlah ciptaan pribadi beliau. Jokowi menjelaskan bahwa lagu tersebut sebenarnya adalah karya Pak Bahlil (Menteri Koordinator Bidang Perekonomian), yang kebetulan terdengar di depan rumahnya ketika sedang berjalan. Ia menegaskan, “Rupanya lagu Pak Bahlil sudah sampai di depan rumah saya, jadi wajar kalau terdengar oleh warga sekitar.”
Reaksi publik beragam. Sebagian netizen memuji sikap terbuka Jokowi yang memberi ruang bagi kreativitas muda, sementara yang lain menertawakan kebingungan awal mengenai kepemilikan lagu. Beberapa komentar menyoroti bagaimana fenomena viral dapat melintasi batas-batas formal dan menjadi bahan percakapan di ruang publik.
Kejadian ini sekaligus menyoroti peran media sosial sebagai katalisator budaya populer di Indonesia. Lagu yang mengangkat unsur kuliner tradisional, yaitu bolu ketan, berhasil memadukan musik modern dengan identitas lokal, sehingga menarik perhatian luas.