Setapak Langkah – 30 Juli 2026 | Presiden Republik Indonesia baru-baru ini menegaskan pentingnya kolaborasi regional dalam upaya konservasi mangrove dengan mengajak seluruh negara anggota Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) untuk berpartisipasi dalam World Mangrove Center (WMC). Inisiatif ini bertujuan memperkuat jaringan perlindungan ekosistem pesisir yang vital bagi penanggulangan perubahan iklim, penyerapan karbon, serta peningkatan ketahanan pangan dan ekonomi lokal.
World Mangrove Center, yang berpusat di Indonesia, berfungsi sebagai pusat riset, edukasi, dan koordinasi kebijakan antarnegara. Melalui keanggotaan APEC, Indonesia berharap dapat memobilisasi sumber daya teknis dan finansial yang lebih luas, sekaligus menstandardisasi praktik pengelolaan mangrove di kawasan Asia‑Pasifik.
Manfaat utama yang diharapkan meliputi:
- Peningkatan kapasitas: Pertukaran pengetahuan antara ilmuwan, praktisi, dan pembuat kebijakan untuk mengadopsi teknologi restorasi yang lebih efektif.
- Penguatan ekonomi biru: Pengembangan sektor perikanan, ekowisata, dan produk berbasis mangrove yang dapat meningkatkan pendapatan komunitas pesisir.
- Kontribusi pada agenda iklim global: Mangrove menyerap hingga 10 kali lebih banyak karbon dibandingkan hutan darat, sehingga menjadi komponen kunci dalam pencapaian target net‑zero.
Negara‑negara anggota APEC diundang untuk menyampaikan niat bergabung melalui forum bilateral maupun pertemuan tingkat tinggi yang direncanakan pada KTT APEC berikutnya. Pemerintah Indonesia juga membuka peluang pendanaan bersama, pelatihan teknis, serta proyek percontohan di wilayah rawan degradasi mangrove.
Langkah ini mencerminkan komitmen Indonesia dalam memperluas peran kepemimpinan lingkungan di tingkat internasional, sekaligus menegaskan bahwa konservasi mangrove bukan hanya isu ekologi, melainkan agenda pembangunan berkelanjutan yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.