Setapak Langkah – 11 Juli 2026 | Generasi Z, yang kini mulai memasuki dunia kerja dan menapaki fase independen, menunjukkan preferensi kuat terhadap hunian vertikal yang berlokasi strategis di pusat kota. Pendiri dan CEO Architect WOW, Ikhlas Miftah, mengungkapkan fenomena ini dalam sebuah wawancara, menyoroti bagaimana faktor lokasi dan gaya hidup digital menjadi pendorong utama.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih mengutamakan rumah tapak dengan luas tanah, Gen Z lebih menilai kemudahan akses, fasilitas terpadu, dan konektivitas internet sebagai nilai utama dalam memilih tempat tinggal. Berikut beberapa alasan yang diidentifikasi oleh para ahli properti:
- Dekat dengan pusat aktivitas ekonomi: Hunian vertikal yang berada di area komersial mempersingkat waktu perjalanan ke kantor, kampus, atau tempat hiburan.
- Fasilitas lengkap dalam satu gedung: Gym, coworking space, ruang komunitas, dan layanan keamanan 24 jam menjadi standar yang diharapkan.
- Lingkungan yang ramah teknologi: Infrastruktur jaringan fiber optic dan smart home system menjadi daya tarik bagi digital native.
- Efisiensi ruang dan biaya: Apartemen dengan ukuran compact namun dirancang fungsional dapat mengurangi beban biaya sewa atau KPR dibandingkan rumah konvensional.
- Gaya hidup yang dinamis: Kemudahan akses transportasi umum, kafe, restoran, dan ruang budaya mendukung pola hidup yang aktif.
Selain itu, iklim urban yang semakin padat mendorong pengembang untuk meningkatkan jumlah proyek vertikal, baik berupa apartemen, kondominium, maupun mixed-use tower. Menurut data internal Architect WOW, permintaan unit berukuran 30-45 meter persegi meningkat sekitar 27% dalam setahun terakhir, menandakan tren penurunan preferensi terhadap rumah besar yang berada di pinggiran kota.
Namun, tren ini juga menimbulkan tantangan, terutama terkait harga properti di kawasan premium. Gen Z yang masih berada pada tahap awal karier harus menyeimbangkan antara keinginan akan lokasi strategis dan kemampuan finansial. Solusi yang muncul meliputi program cicilan ringan, skema co‑living, serta kolaborasi antara developer dan fintech untuk menawarkan layanan pembiayaan yang lebih fleksibel.
Secara keseluruhan, pergeseran preferensi hunian ini mencerminkan perubahan paradigma tempat tinggal di era digital, di mana kecepatan, konektivitas, dan kemudahan akses menjadi prioritas utama bagi generasi muda.