Setapak Langkah – 30 April 2026 | Jalanan politik internasional kembali menjadi sorotan setelah FIFA mengumumkan penghargaan perdana FIFA Peace Prize kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Keputusan tersebut memicu beragam reaksi, termasuk kritik tajam dari sejumlah pengamat, aktivis, dan media internasional yang menilai penghargaan itu tidak sejalan dengan nilai perdamaian.
Dalam sebuah pernyataan resmi, Gedung Putih menegaskan bahwa tidak ada tokoh lain yang lebih pantas menerima penghargaan tersebut pada saat ini. Pihak Istana Kepresidenan menyoroti sejumlah inisiatif yang, menurut mereka, telah berkontribusi pada stabilitas regional, termasuk upaya diplomatik di Timur Tengah dan kebijakan perdagangan yang dianggap mengurangi ketegangan ekonomi.
Berikut beberapa poin utama yang disampaikan oleh Gedung Putih:
- Penghargaan diberikan sebagai pengakuan atas peran aktif pemerintah AS dalam memfasilitasi perjanjian Abraham Accords yang menormalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara Arab.
- Penekanan pada dukungan Amerika Serikat terhadap proses perdamaian di Korea Utara melalui dialog langsung.
- Pengakuan atas kebijakan ekonomi yang, menurut pihak Gedung Putih, menciptakan lapangan kerja dan menurunkan ketegangan perdagangan internasional.
Sementara itu, kritik yang muncul menyoroti beberapa hal, antara lain:
- Penolakan terhadap rekam jejak kebijakan luar negeri Trump yang dianggap memecah belah aliansi tradisional AS.
- Kontroversi terkait penanganan isu hak asasi manusia dan kebijakan imigrasi yang dianggap bertentangan dengan nilai perdamaian.
- Ketidaksesuaian antara nama penghargaan “Peace Prize” dengan keputusan yang dianggap lebih bersifat politis daripada sportivitas.
Gedung Putih menutup pernyataan dengan menegaskan bahwa FIFA sebagai badan olahraga independen berhak menentukan kriteria penghargaan tanpa campur tangan politik eksternal, dan bahwa Amerika Serikat akan terus mendukung upaya perdamaian global melalui semua saluran yang tersedia.