Setapak Langkah – 26 Juni 2026 | Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menolak permintaan dari federasi sepak bola Iran dan Mesir untuk melarang pengibaran bendera pelangi selama pertandingan Piala Dunia yang dijadwalkan berlangsung di Seattle pada Jumat, 23 November 2022. Keputusan ini menandai perbedaan signifikan dengan kebijakan yang diterapkan saat Piala Dunia 2022 di Qatar, di mana penggunaan simbol-simbol yang dianggap bertentangan dengan nilai budaya lokal dilarang.
Dalam pernyataan resminya, FIFA menegaskan komitmen terhadap kebebasan berekspresi dan non‑diskriminasi, serta menolak segala bentuk tekanan politik yang dapat memengaruhi pertandingan. FIFA menambahkan bahwa stadion di Seattle akan tetap terbuka bagi penonton untuk mengibarkan bendera pelangi sebagai simbol dukungan terhadap komunitas LGBTQ+.
Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) dan Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) masing‑masing menyatakan keberatan mereka, mengutip nilai‑nilai agama dan budaya yang melarang simbol tersebut. Kedua federasi meminta FIFA untuk menegakkan larangan, namun FIFA tetap pada posisinya.
- Iran menilai bendera pelangi sebagai provokasi terhadap nilai moral negara.
- Mesir menekankan bahwa simbol tersebut bertentangan dengan norma sosial domestik.
- FIFA menegaskan bahwa kebijakan stadium bersifat netral dan tidak mendukung atau menolak simbol politik apa pun.
Keputusan ini menimbulkan reaksi beragam di kalangan penggemar dan aktivis hak asasi manusia. Sebagian pihak memuji FIFA karena menjaga ruang inklusif di arena olahraga, sementara yang lain mengkritik keputusan tersebut sebagai intervensi budaya asing.
Pertandingan antara Iran dan Mesir dijadwalkan berlangsung pada pukul 20.00 waktu setempat di Lumen Field, Seattle, dengan kapasitas lebih dari 68.000 penonton. FIFA mengingatkan bahwa keamanan dan ketertiban tetap menjadi prioritas utama, dan pihak keamanan stadion telah dipersiapkan untuk menanggulangi potensi bentrokan.
Dengan keputusan ini, FIFA mempertegas kebijakan globalnya yang menekankan nilai‑nilai universal seperti kebebasan berekspresi, sekaligus menguji batas toleransi terhadap perbedaan budaya dalam ajang olahraga internasional.