Setapak Langkah – 04 Juni 2026 | Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyatakan bahwa krisis yang terjadi di Selat Hormuz mengubah cara negara-negara memandang keamanan energi sebagai bagian tak terpisahkan dari kedaulatan nasional. Menurutnya, kejadian penutupan selat tersebut menegaskan perlunya diversifikasi sumber energi dan memperkuat infrastruktur energi dalam negeri.
Erdogan menekankan bahwa ketergantungan pada jalur pelayaran tunggal seperti Hormuz dapat menimbulkan risiko geopolitik yang signifikan. Oleh karena itu, Turki berupaya meningkatkan produksi minyak dan gas domestik, memperluas jaringan pipa, serta mempercepat transisi ke energi terbarukan.
Langkah-langkah strategis Turki dalam rangka meningkatkan keamanan energi
- Pengembangan ladang gas di Laut Hitam dan Laut Aegea.
- Pembangunan terminal LNG di pelabuhan-pelabuhan utama.
- Investasi dalam pembangkit listrik tenaga surya dan angin.
- Peningkatan kapasitas penyimpanan energi strategis nasional.
Data berikut menggambarkan proporsi impor energi Turki sebelum dan sesudah krisis Hormuz:
| Tahun | Import Minyak Mentah (%) | Import Gas Alam (%) |
|---|---|---|
| 2022 | 45 | 30 |
| 2023 | 38 | 27 |
Penurunan persentase impor menunjukkan keberhasilan kebijakan diversifikasi yang sedang dijalankan. Erdogan menambahkan bahwa Turki akan terus berkoordinasi dengan mitra internasional untuk memastikan kelancaran pasokan energi, sekaligus memperkuat posisi tawar negara dalam forum geopolitik.
Dengan mengadopsi pendekatan yang lebih mandiri, Turki berharap dapat mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi geopolitik di wilayah strategis seperti Selat Hormuz, sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.