Setapak Langkah – 01 Mei 2026 | Dalam sebuah wawancara terbaru, Sudirman Said, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyoroti bahwa pola pikir jangka pendek serta konflik kepentingan menjadi penyebab utama melemahnya ketahanan energi nasional Indonesia.
Sudirman menegaskan bahwa selama masa kepemimpinannya, pemerintah sempat mengimplementasikan kebijakan yang menekankan pada solusi cepat, seperti meningkatkan impor bahan bakar tanpa memperkuat kapasitas produksi dalam negeri. Menurutnya, langkah tersebut menimbulkan ketergantungan pada pasar luar negeri dan mengurangi ruang gerak strategis negara dalam mengelola sumber daya energi.
Ia juga mengkritik praktik konflik kepentingan yang muncul ketika keputusan investasi energi diberikan kepada entitas yang memiliki hubungan pribadi atau politik dengan pejabat. Konflik semacam ini, kata Sudirman, mengakibatkan alokasi dana yang tidak efisien dan proyek yang tidak berkelanjutan.
Berikut beberapa poin penting yang diutarakan oleh Sudirman Said:
- Pola pikir jangka pendek: Fokus pada solusi instan mengabaikan kebutuhan investasi jangka panjang seperti pembangkit listrik tenaga air, panas bumi, dan energi terbarukan lainnya.
- Ketergantungan impor: Peningkatan impor minyak dan gas meningkatkan beban neraca perdagangan serta menurunkan kemandirian energi.
- Konflik kepentingan: Penunjukan kontraktor atau investor yang memiliki kedekatan politik dapat menurunkan kualitas proyek dan meningkatkan biaya.
- Kebutuhan regulasi yang konsisten: Kebijakan harus didukung oleh kerangka regulasi yang stabil agar investor merasa aman dan mau menanamkan modal jangka panjang.
- Pengembangan sumber energi domestik: Memperkuat sektor panas bumi, tenaga surya, dan biomassa dapat mengurangi beban impor dan meningkatkan ketahanan energi.
Sudirman menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan akademisi untuk merumuskan strategi energi yang berkelanjutan. Ia menyarankan pembentukan lembaga independen yang mengawasi alokasi investasi energi serta memastikan tidak ada kepentingan pribadi yang memengaruhi keputusan strategis.
Dengan mengadopsi pendekatan jangka panjang, Indonesia diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi, menstabilkan harga energi bagi konsumen, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih resilient.