Setapak Langkah – 01 Juni 2026 | Pengamat hubungan internasional Dino Patti Djalal baru-baru ini menyoroti frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Jokowi, Prabowo Subianto, yang menurutnya terkesan berlebihan. Ia menilai bahwa agenda luar negeri yang padat dapat mengalihkan fokus pada urusan domestik yang masih memerlukan perhatian serius.
Menanggapi kritik tersebut, Istana Negara mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa setiap perjalanan dinas ke luar negeri memiliki tujuan strategis dan memberikan dampak positif bagi kepentingan nasional. Dalam penjelasan tersebut, dijelaskan beberapa manfaat konkret yang diharapkan dari kunjungan Prabowo.
- Penguatan Kerja Sama Ekonomi: Melalui pertemuan dengan pejabat tinggi negara-negara mitra, Prabowo berupaya meningkatkan investasi asing langsung (FDI) serta membuka peluang perdagangan baru bagi produk Indonesia.
- Negosiasi Perjanjian Bilateral: Kunjungan ke Prancis dan negara-negara besar lainnya difokuskan pada penyusunan kesepakatan di bidang energi, teknologi, dan pertahanan, yang diharapkan dapat mempercepat transfer teknologi dan peningkatan kapasitas industri dalam negeri.
- Pembukaan Akses Pasar: Dialog dengan pemerintah asing bertujuan memperluas akses pasar ekspor barang dan jasa Indonesia, khususnya di sektor pertanian, manufaktur, dan pariwisata.
- Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia: Program pertukaran akademik dan pelatihan teknis yang dibahas dalam pertemuan bilateral diharapkan dapat meningkatkan kompetensi tenaga kerja Indonesia.
- Penguatan Posisi Diplomatik: Kehadiran Presiden Prabowo di forum internasional menegaskan peran aktif Indonesia dalam percaturan geopolitik, memperkuat citra negara sebagai mitra yang dapat diandalkan.
Istana juga menambahkan bahwa semua kunjungan tersebut dilaksanakan dengan koordinasi yang ketat antara Kementerian Luar Negeri, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, serta lembaga terkait lainnya, sehingga hasilnya dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan nasional.
Selain manfaat ekonomi, pernyataan Istana menyoroti pentingnya kerja sama strategis di bidang pertahanan dengan Prancis, termasuk pembelian sistem pertahanan udara dan kerjasama riset militer. Kesepakatan ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan pertahanan negara serta membuka peluang joint venture dengan industri pertahanan dalam negeri.
Dino Patti Djalal menanggapi kembali pernyataan Istana dengan mengakui bahwa kunjungan luar negeri memang memiliki potensi manfaat, namun ia tetap menekankan perlunya keseimbangan antara agenda internasional dan penanganan persoalan domestik seperti inflasi, kemiskinan, dan pembangunan infrastruktur.
Ia juga mengusulkan agar pemerintah lebih transparan dalam menyampaikan tujuan dan hasil konkret dari setiap perjalanan dinas, sehingga publik dapat menilai secara objektif kontribusi kunjungan tersebut terhadap kesejahteraan rakyat.
Secara keseluruhan, perdebatan ini mencerminkan dinamika politik dalam mengelola kebijakan luar negeri Indonesia, di mana antara kepentingan strategis internasional dan tuntutan akuntabilitas domestik harus terus dijaga keseimbangannya.