Setapak Langkah – 23 April 2026 | Badan Pangan Nasional (Bapanas) mempercepat peluncuran program beras fortifikasi sebagai upaya utama mengatasi defisiensi gizi di Indonesia. Inisiatif ini menjadi bagian integral dari strategi nasional untuk meningkatkan asupan mikronutrien, khususnya zat besi, vitamin A, dan folat, pada masyarakat berisiko.
Program beras fortifikasi ditargetkan untuk menembus seluruh rantai distribusi, mulai dari petani, pedagang, hingga konsumen akhir. Bapanas bekerja sama dengan kementerian terkait, produsen beras, serta lembaga swadaya masyarakat untuk memastikan standar fortifikasi terpenuhi dan produk beras fortifikasi dapat dijangkau secara luas.
- Langkah pertama: Penetapan standar kualitas fortifikasi yang sesuai dengan regulasi Kementerian Kesehatan.
- Langkah kedua: Penyuluhan kepada petani dan penggiling tentang proses penambahan mikronutrien selama pengolahan beras.
- Langkah ketiga: Distribusi beras fortifikasi melalui jaringan pasar tradisional dan modern, termasuk supermarket dan warung.
- Langkah keempat: Monitoring dan evaluasi dampak gizi melalui survei kesehatan masyarakat secara periodik.
Target jangka pendek Bapanas adalah menyiapkan 30% produksi beras nasional dalam bentuk fortifikasi dalam dua tahun ke depan. Pada tahun 2025, diharapkan setidaknya setengah dari total konsumsi beras rumah tangga sudah mengandung mikronutrien tambahan.
Keberhasilan program ini diharapkan dapat menurunkan prevalensi anemia pada perempuan usia subur dan balita, serta meningkatkan status gizi anak-anak di daerah rawan gizi. Dengan demikian, Bapanas tidak hanya berkontribusi pada kesehatan, tetapi juga pada produktivitas tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional.