Setapak Langkah – 04 Mei 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Minggu, 3 Mei, menyatakan bahwa ia telah meninjau usulan damai terbaru yang diajukan oleh pemerintah Iran. Menurut pernyataan yang disampaikan dalam konferensi pers, Trump menolak usulan tersebut karena dianggap tidak memenuhi syarat keamanan dan kepentingan nasional Amerika Serikat.
Usulan Iran mencakup langkah-langkah untuk menghentikan program nuklirnya, mengurangi kehadiran militer di wilayah Teluk Persia, serta membuka jalur diplomatik yang lebih luas dengan negara-negara Barat. Namun, pihak Gedung Putih menilai bahwa janji-janji tersebut belum didukung oleh verifikasi yang memadai.
Berikut beberapa poin penting dari penolakan Trump:
- Iran belum memberikan akses inspeksi yang dapat dipertanggungjawabkan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
- Usulan tidak mencakup penghapusan sanksi ekonomi secara keseluruhan, melainkan hanya pengurangan parsial.
- Trump menekankan bahwa Amerika Serikat tetap berkomitmen pada kebijakan “maximum pressure” terhadap Tehran.
Penolakan ini diperkirakan akan memperpanjang ketegangan antara kedua negara, sekaligus menimbulkan kekhawatiran di kawasan Timur Tengah mengenai kemungkinan eskalasi militer. Analisis para pakar hubungan internasional menyebutkan bahwa langkah ini dapat memicu Iran mencari sekutu lain atau meningkatkan retorika anti‑AS.
Di dalam negeri, keputusan Trump menuai beragam reaksi. Beberapa anggota Kongres dari Partai Republik mendukung sikap tegas terhadap Iran, sementara kritikus dari Partai Demokrat menilai bahwa penolakan tersebut menghilangkan peluang diplomatik yang dapat menurunkan risiko konflik.
Ke depannya, pihak Iran diperkirakan akan mengevaluasi kembali tawaran mereka atau mencari jalur alternatif untuk mengurangi tekanan internasional. Sementara itu, pemerintahan Trump menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat akan tetap berlandaskan pada kepentingan keamanan nasional dan penegakan perjanjian yang dapat diverifikasi.