Setapak Langkah – 22 Mei 2026 | Ayip Tayana, seorang pengamat politik, menegaskan ketidaksepakatannya terhadap narasi yang menyebutkan bahwa negara Indonesia sedang menjajah rakyat Papua melalui program Food Estate. Pernyataan tersebut muncul setelah dirilisnya film dokumenter berjudul “Pesta Babi” yang mengkritik kebijakan pemerintah terkait pembangunan pertanian besar-besaran di wilayah Papua.
Pengamat tersebut menambahkan bahwa kritik film tersebut cenderung menyederhanakan isu menjadi konfrontasi antara negara dan rakyat Papua, padahal kenyataannya terdapat banyak pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, perusahaan agribisnis, dan komunitas lokal, yang terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan program.
Beberapa poin penting yang disoroti Tayana meliputi:
- Tujuan strategis: Food Estate dirancang untuk mengoptimalkan lahan pertanian di wilayah timur Indonesia guna mengurangi ketergantungan impor pangan.
- Keterlibatan masyarakat: Pemerintah berjanji akan melibatkan masyarakat adat dalam proses perencanaan, meskipun implementasinya masih memerlukan evaluasi lebih lanjut.
- Isu lingkungan: Kritik terhadap dampak lingkungan memang valid, namun penyelesaian harus melalui kajian ilmiah dan dialog terbuka, bukan sekadar retorika menjajah.
Tayana menekankan pentingnya dialog yang konstruktif antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat Papua untuk mencari solusi yang berkelanjutan. Ia mengajak semua pihak untuk menghindari bahasa yang memecah belah dan fokus pada upaya memperbaiki kebijakan serta pelaksanaan program agar manfaatnya dapat dirasakan secara adil.
Film “Pesta Babi” sendiri berhasil menarik perhatian publik terhadap isu-isu pertanian dan hak-hak masyarakat adat, namun pengamat menilai bahwa film tersebut sebaiknya menjadi pemicu diskusi yang lebih mendalam, bukan sekadar menyebarkan narasi yang mengedepankan konflik.