Setapak Langkah – 14 Juli 2026 | Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriyah yang memiliki nilai historis, keagamaan, dan budaya bagi umat Islam. Mengetahui seluk‑beluk Safar penting bagi umat untuk menyiapkan diri dalam melaksanakan ibadah sunnah, menghindari mitos keliru, serta menyesuaikan kegiatan administrasi yang masih memakai penanggalan Islam.
Sejarah dan Asal‑Usul Nama Safar
Nama “Safar” berasal dari bahasa Arab yang berarti “perjalanan” atau “perpindahan”. Pada masa pra‑Islam, suku Quraisy menandai bulan ini sebagai masa perjalanan dan migrasi, terutama untuk perdagangan ke wilayah Syam (Suriah). Ketika Islam berkembang, Safar tetap dipertahankan dalam penanggalan hijriah meski makna aslinya tidak lagi menjadi fokus utama.
Kedudukan Safar dalam Kalender Hijriyah
Safar berada tepat setelah bulan Muharram, bulan pertama yang suci. Karena kalender Islam bersifat lunar, panjang Safar dapat 29 atau 30 hari tergantung pada pengamatan hilal. Berikut rangkaian bulan Hijriyah beserta durasi tipikal:
| Bulan | Urutan | Durasi (hari) |
|---|---|---|
| Muḥarram | 1 | 29‑30 |
| Safar | 2 | 29‑30 |
| Rabiʿ al‑Awal | 3 | 29‑30 |
| Rabiʿ al‑Thani | 4 | 29‑30 |
| Jumadal‑Ula | 5 | 29‑30 |
Perbedaan satu atau dua hari tiap tahun membuat Safar “bergerak” sepanjang musim, sehingga tidak terikat pada satu musim tertentu.
Mitos‑Mitos yang Sering Ditemui
- Mitos 1: Safar adalah bulan sial atau membawa nasib buruk. Padahal tidak ada dasar dalam Al‑Qur’an atau Hadits yang menyebutkan Safar sebagai bulan terkutuk.
- Mitos 2: Semua amal harus ditunda sampai bulan Ramadan. Islam mengajarkan bahwa setiap hari memiliki kesempatan beramal, tidak terkecuali Safar.
- Mitos 3: Menghindari perjalanan karena “sial”. Faktanya, Safar dulu memang dikenal sebagai bulan perjalanan, tetapi tidak ada larangan agama untuk bepergian.
Penelitian ulama kontemporer menegaskan bahwa mitos‑mitos tersebut hanyalah kepercayaan budaya yang tidak berdasar pada sumber syariah.
Amalan Sunnah yang Dapat Dilakukan di Bulan Safar
Walaupun tidak ada kewajiban khusus, Safar menjadi momentum yang baik untuk memperbanyak amal. Berikut beberapa amalan sunnah yang dianjurkan:
- Memperbanyak membaca Al‑Qur’an, terutama surat‑surat pendek.
- Shalat malam (Tahajjud) dengan niat meningkatkan ketakwaan.
- Memberi sedekah kepada fakir miskin, terutama kepada anak yatim.
- Memperbanyak doa untuk keselamatan perjalanan, mengingat asal‑usul nama Safar.
- Melakukan istighfar dan taubat, sebagai bentuk pembersihan hati menjelang bulan suci Ramadan.
Amalan‑amalan ini tidak hanya meningkatkan pahala, tetapi juga membantu menghilangkan stigma negatif yang selama ini melekat pada bulan Safar.
Penerapan Praktis dalam Kehidupan Sehari‑hari
Bagi individu maupun lembaga, mengetahui jadwal Safar dapat mempermudah penjadwalan kegiatan administratif, seperti penetapan akhir tahun fiskal organisasi yang menggunakan kalender Hijriyah, atau penentuan tanggal pelaksanaan acara keagamaan. Selain itu, komunitas masjid dapat memanfaatkan Safar untuk menggelar kajian singkat tentang sejarah Islam, sehingga anggota dapat memahami konteks historis sekaligus menyingkirkan mitos‑mitos keliru.
Dengan memahami sejarah, posisi, serta amalan yang dianjurkan, umat Islam dapat menyambut Safar dengan optimisme dan kesiapan spiritual, sekaligus menyiapkan diri untuk memasuki Ramadan dengan hati yang bersih.