Setapak Langkah – 14 Juli 2026 | Nilai tukar rupiah Indonesia mengalami penurunan pada Selasa pagi, mencatat level Rp18.115 per dolar AS. Penurunan ini setara dengan 6 poin atau sekitar 0,03% dibandingkan kurs sebelumnya.
Penurunan kecil tersebut terjadi di tengah dinamika pasar global yang dipengaruhi oleh data inflasi Amerika Serikat dan kebijakan moneter Federal Reserve. Investor cenderung menyesuaikan posisi mereka, yang berujung pada tekanan jual terhadap mata uang emerging market termasuk rupiah.
Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa pergerakan ini masih berada dalam kisaran volatilitas harian yang wajar. Kebijakan suku bunga BI yang tetap pada 5,75% serta intervensi pasar valuta asing diharapkan dapat menstabilkan nilai tukar bila diperlukan.
Sejumlah analis memperkirakan bahwa kurs rupiah dapat berfluktuasi lebih lebar bila data ekonomi utama, seperti PMI manufaktur dan data perdagangan, menunjukkan tekanan negatif. Sebaliknya, perbaikan neraca perdagangan atau aliran modal asing yang meningkat dapat memberikan dukungan bagi rupiah.
| Tanggal | Kurs (Rp/USD) |
|---|---|
| Senin | Rp18.109 |
| Selasa (pagi) | Rp18.115 |
| Selasa (siang) | Rp18.112 |
Secara historis, nilai tukar rupiah telah mengalami siklus penguatan dan pelemahan yang dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti harga komoditas, kebijakan moneter Amerika, serta aliran investasi. Pada akhir 2023, rupiah berada di kisaran Rp14.500–Rp15.000 per dolar, namun tekanan inflasi dan kebijakan suku bunga global mendorong depresiasi pada awal 2024.
Pengamat ekonomi menyarankan pelaku pasar untuk memperhatikan data makro ekonomi utama serta kebijakan moneter global dalam mengambil keputusan investasi. Sementara itu, konsumen di dalam negeri dapat merasakan dampak langsung melalui harga barang impor yang berpotensi naik.