Setapak Langkah – 23 Mei 2026 | Ratusan peserta berkumpul pada sore hari di Sekretariat Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jakarta Pusat untuk menyaksikan pemutaran bersama (nobar) film dokumenter berjudul “Pesta Babi“. Acara ini menjadi sorotan publik karena film tersebut mengangkat tema kontroversial mengenai praktik penyembelihan babi dalam konteks budaya tertentu, yang dianggap sensitif di kalangan masyarakat mayoritas beragama Islam.
Acara dimulai pukul 16.00 WIB dengan sambutan dari ketua cabang PMKRI, yang menegaskan tujuan nobar ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran kritis serta memfasilitasi dialog terbuka tentang kebebasan berekspresi dan toleransi beragama. Selanjutnya, film diputar selama sekitar satu jam tiga puluh menit, diikuti dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh beberapa dosen dan aktivis hak asasi manusia.
Berikut rangkuman utama yang disampaikan dalam film:
- Sejarah tradisi pesta babi di beberapa komunitas minoritas.
- Dampak sosial‑ekonomi dari praktik tersebut terhadap masyarakat sekitar.
- Perspektif hukum Indonesia terkait perlindungan minoritas dan kebebasan beragama.
Setelah pemutaran, peserta mengajukan pertanyaan kritis mengenai batasan kebebasan beragama, peran lembaga pendidikan dalam mediasi konflik budaya, serta langkah-langkah preventif yang dapat diambil pemerintah daerah. Beberapa peserta mengusulkan pembentukan forum lintas agama untuk membahas isu serupa secara rutin.
Acara ini juga menarik perhatian media lokal, namun pihak penyelenggara menegaskan bahwa tujuan utama bukan provokasi melainkan edukasi. Penyelenggaraan nobar ini didukung oleh sponsor lokal berupa konsumsi ringan dan perlengkapan audiovisual, tanpa melibatkan pihak politik manapun.
Keberhasilan acara ini dinilai positif oleh para peserta, yang menyatakan bahwa dialog terbuka dapat mengurangi prasangka dan meningkatkan pemahaman bersama. Meskipun demikian, beberapa kalangan masih mengkritik pilihan topik yang dianggap sensitif, menuntut agar organisasi mahasiswa lebih berhati-hati dalam memilih tema publik.