Setapak Langkah – 12 Juli 2026 | Pengamat industri energi mengingatkan pemerintah untuk lebih serius mengawasi keberlanjutan rantai pasok bahan baku biodiesel, khususnya dalam program B50 yang menargetkan campuran 50% biodiesel dalam bahan bakar fosil.
Program B50 dipandang sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada minyak bumi, menurunkan emisi karbon, dan meningkatkan pemanfaatan produk domestik seperti minyak kelapa sawit. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada ketersediaan bahan pendukung utama, antara lain metanol, katalis, serta berbagai bahan kimia lain yang diperlukan dalam proses transesterifikasi.
- Memastikan pasokan metanol domestik melalui pengembangan pabrik produksi atau kerjasama strategis dengan produsen luar negeri.
- Mengoptimalkan regulasi impor bahan kimia kritis untuk menghindari keterlambatan dan fluktuasi harga.
- Mendorong investasi pada teknologi proses yang lebih efisien dan ramah lingkungan, sehingga kebutuhan bahan kimia dapat diminimalkan.
- Menetapkan mekanisme pemantauan real‑time terhadap stok bahan baku di pelabuhan dan gudang distribusi.
- Mengintegrasikan kebijakan subsidi atau insentif bagi produsen yang menerapkan praktik rantai pasok berkelanjutan.
Pengamat juga menekankan perlunya koordinasi lintas kementerian, termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Perindustrian, serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), untuk menyusun kebijakan terpadu yang menyeimbangkan antara keamanan pasokan, harga yang kompetitif, dan dampak lingkungan.
Jika langkah‑langkah tersebut diimplementasikan, diharapkan program B50 dapat berkelanjutan, meningkatkan nilai tambah industri kelapa sawit, serta berkontribusi pada target energi bersih Indonesia.