Setapak Langkah – 13 April 2026 | Mantan Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia, Maruf Amin, menyampaikan keprihatinannya atas kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung selama beberapa minggu terakhir. Menurutnya, kegagalan ini menandai ketidakpastian baru bagi keamanan regional dan menuntut kesiapan Indonesia dalam menghadapi konsekuensi apa pun.
Perundingan yang difasilitasi oleh pihak ketiga berupaya mengakhiri ketegangan yang memuncak sejak serangan drone dan penangkapan warga Amerika di wilayah Iran. Namun, perbedaan utama mengenai pencabutan sanksi dan penarikan pasukan tetap tak dapat dijembatani, sehingga kedua belah pihak memutuskan untuk menghentikan dialog.
Maruf Amin menekankan tiga hal penting:
- Kesiapan diplomatik: Indonesia harus memperkuat hubungan bilateralnya dengan kedua negara sekaligus meningkatkan peran sebagai mediator netral di kawasan.
- Keamanan ekonomi: Potensi gangguan pada aliran minyak dan gas serta dampak pada pasar keuangan regional perlu dipantau secara intensif.
- Stabilitas sosial‑politik: Pemerintah harus menyiapkan kebijakan kontinjensi untuk mengantisipasi kemungkinan eskalasi militer yang dapat memicu gelombang migrasi atau krisis energi.
Dalam pernyataannya, Maruf Amin juga mengingatkan bahwa Indonesia, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, memiliki tanggung jawab untuk menjaga stabilitas regional. Ia menutup dengan harapan agar semua pihak kembali ke meja perundingan dengan niat tulus, sekaligus menegaskan bahwa negara harus siap menghadapi “dampak apa pun” yang mungkin timbul.