Setapak Langkah – 21 April 2026 | Pasukan Pemelihara Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) kembali menjadi sorotan setelah serangkaian insiden keamanan yang menargetkan pos-posnya. Kematian personel dan kerusakan fasilitas menimbulkan keprihatinan internasional, termasuk di Indonesia.
Seorang pengamat hubungan internasional menilai bahwa Indonesia memiliki peluang strategis untuk meningkatkan peranannya di tingkat global dengan mengusulkan sidang darurat Dewan Keamanan PBB. Usulan tersebut, menurutnya, sebaiknya dijalankan bersama mitra utama, yakni Prancis, yang memiliki sejarah panjang dalam operasi penjagaan perdamaian dan merupakan anggota tetap Dewan Keamanan.
Langkah-langkah yang dapat diambil meliputi:
- Menyusun resolusi yang menekankan perlindungan UNIFIL sebagai prioritas keamanan regional.
- Melakukan lobi intensif di antara anggota Dewan Keamanan, dengan fokus pada negara-negara Eropa dan Amerika yang memiliki kepentingan strategis di Timur Tengah.
- Menjalin koalisi bilateral antara Indonesia dan Prancis, termasuk pertukaran pandangan diplomatik dan koordinasi teknis dalam penyusunan dokumen.
- Menggunakan platform multilateral lain, seperti Konferensi Tingkat Tinggi PBB, untuk memperkuat dukungan internasional.
Kolaborasi dengan Prancis diharapkan dapat memberikan bobot lebih pada proposal Indonesia, mengingat Prancis memiliki hak veto serta pengaruh signifikan dalam kebijakan keamanan PBB. Selain itu, kerja sama ini mencerminkan pendekatan multilateral Indonesia yang menekankan diplomasi damai, penyelesaian konflik melalui dialog, dan perlindungan terhadap misi-misi penjagaan perdamaian.
Jika usulan sidang darurat berhasil, konsekuensinya dapat berupa peningkatan mandat UNIFIL, penambahan sumber daya logistik, serta penegasan komitmen internasional terhadap stabilitas Lebanon. Bagi Indonesia, langkah ini sekaligus memperkuat citra sebagai negara yang aktif dalam menjaga perdamaian dunia.