Setapak Langkah – 17 April 2026 | Presiden Rusia, Vladimir Putin, baru-baru ini menyampaikan usulan diplomatik kepada Amerika Serikat untuk mengambil alih uranium berlevel tinggi yang diproduksi Iran, sebagai bagian dari upaya menurunkan ketegangan seputar program nuklir Tehran. Usulan tersebut disampaikan melalui juru bicara Kremlin pada konferensi pers pekan ini.
Namun, pemerintah Amerika Serikat menolak tegas tawaran tersebut. Sekretaris Negara AS menegaskan bahwa keputusan untuk mengelola uranium Iran sepenuhnya berada di bawah kendali badan internasional, khususnya Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dan menolak intervensi pihak ketiga yang tidak diakui secara luas. Washington menyoroti bahwa setiap perubahan dalam pengelolaan bahan nuklir Iran harus melalui mekanisme yang telah disepakati dalam perjanjian JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action).
Penolakan AS ini menambah kompleksitas hubungan tiga pihak yang sudah tegang. Sementara Rusia berupaya memperkuat posisinya di panggung diplomatik, Iran menolak segala bentuk intervensi asing yang dapat mengancam kedaulatan program nuklirnya. Di sisi lain, IAEA tetap berupaya memantau kepatuhan Iran terhadap batasan pengayaan uranium, meski menghadapi tantangan akses dan verifikasi.
Para pakar menilai bahwa tawaran Rusia dapat dilihat sebagai upaya geopolitik untuk mengalihkan sorotan dari sanksi ekonomi yang dijatuhkan kepada Moskow. Mereka juga memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat terus menolak alternatif diplomatik, peluang penyelesaian damai atas isu nuklir Iran akan semakin sempit, meningkatkan risiko eskalasi di Timur Tengah.