Setapak Langkah – 09 Juni 2026 | Harga minyak dunia diperkirakan dapat melonjak hingga US$170 per barel dalam beberapa minggu ke depan, menurut analis pasar energi. Kenaikan ini dipicu oleh intensifikasi ketegangan geopolitik di beberapa wilayah kunci produksi serta kebijakan sanksi yang semakin ketat terhadap Rusia.
Faktor utama yang menekan pasokan meliputi:
- Ketegangan di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan sekutunya dengan negara-negara Barat.
- Sanksi ekonomi terhadap Rusia yang membatasi ekspor energi negara tersebut.
- Gangguan logistik di jalur transportasi laut akibat konflik militer.
Berikut adalah skema perkiraan harga minyak mentah dunia dalam tiga skenario utama:
| Skema Harga | Perkiraan |
|---|---|
| Harga saat ini | US$78 per barel |
| Skenario moderat | US$120 per barel |
| Skenario ekstrem | US$170 per barel |
Kenaikan harga minyak yang tajam akan menambah beban inflasi global, terutama pada sektor transportasi dan produksi barang. Bagi negara-negara import minyak seperti Indonesia, dampaknya dirasakan pada kenaikan biaya bahan bakar, tarif listrik, serta beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah diperkirakan akan menyesuaikan subsidi energi dan mencari alternatif energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan.
Secara keseluruhan, dinamika geopolitik dan kebijakan sanksi menjadi katalis utama yang dapat memicu lonjakan harga minyak hingga level tertinggi dalam dekade terakhir.