Setapak Langkah – 09 Agustus 2026 | Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menegaskan komitmen untuk mengembangkan yacht tourism sebagai bagian strategis dalam memperkuat ekosistem wisata bahari nasional. Inisiatif ini diharapkan dapat menarik wisatawan kelas atas yang menghabiskan dana signifikan serta meningkatkan nilai tambah bagi daerah pesisir.
Yacht tourism mengacu pada perjalanan rekreasi menggunakan kapal pesiar pribadi atau sewaan, yang biasanya meliputi kunjungan ke beberapa destinasi dalam satu itinerary. Potensi pasar ini diperkirakan mencapai jutaan wisatawan internasional yang mengutamakan kemewahan, privasi, dan pengalaman laut yang eksklusif.
Berbagai langkah konkrit telah dirancang, antara lain:
- Pembangunan dan peningkatan fasilitas marina di lokasi strategis, termasuk penambahan dermaga, layanan logistik, dan fasilitas keamanan.
- Penyusunan regulasi yang mempermudah perizinan kapal dan operasional penyewaan yacht.
- Kerjasama dengan agen perjalanan, operator kapal, serta investor domestik dan asing untuk menciptakan paket wisata terpadu.
- Promosi intensif melalui pameran internasional, media digital, dan program roadshow ke pasar target.
Destinasi yang menjadi prioritas antara lain:
- Bali – kawasan Nusa Dua dan Benoa dengan marina berstandar internasional.
- Lombok – Pantai Selong Belakan dan Gili Trawangan.
- Raja Ampat – perairan kaya terumbu karang di Papua Barat.
- Kepulauan Derawan – Pulau Kakaban dan Labuan Cermin.
- Pulau Bangka Belitung – Teluk Berakit dan Pulau Penyengat.
Proyeksi ekonomi yang diharapkan dapat dirangkum dalam tabel berikut:
| Aspek | Estimasi 2025 |
|---|---|
| Investasi tambahan (USD) | 250 juta |
| Penciptaan lapangan kerja | 12.000 posisi |
| Pendapatan devisa | 1,8 miliar USD |
Manfaat yang diantisipasi meliputi peningkatan pendapatan daerah, penciptaan lapangan kerja di sektor perkapalan, perhotelan, serta peningkatan penjualan produk lokal. Selain itu, yacht tourism dapat memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi premium dalam peta pariwisata dunia.
Namun, pemerintah menyadari tantangan yang harus diatasi, seperti keterbatasan infrastruktur marina, regulasi yang masih berkembang, serta perlindungan lingkungan laut. Untuk itu, Kemenpar berkomitmen mengintegrasikan standar keberlanjutan dalam setiap proyek, termasuk prosedur penilaian dampak lingkungan dan program edukasi bagi pelaku industri.
Langkah selanjutnya mencakup peluncuran program percontohan di tiga pelabuhan utama pada kuartal pertama 2024, penyediaan insentif fiskal bagi investor, serta pelatihan tenaga kerja lokal dalam operasional yacht dan layanan premium. Diharapkan, dalam jangka menengah, yacht tourism akan menjadi pilar baru yang mendukung pertumbuhan ekonomi maritim Indonesia.