Setapak Langkah – 06 Juli 2026 | Jutaan warga Iran memenuhi jalan-jalan utama di ibu kota Teheran pada Rabu (tanggal), menyaksikan prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, yang dilaporkan meninggal dunia pada hari sebelumnya. Demonstrasi massal ini berlangsung di beberapa titik strategis, termasuk Jalan Vali Asr, Al-Mahdi, dan alun-alun Raja.
Berikut rangkaian acara yang dilaporkan terjadi selama prosesi:
- 08.00 WIB – Pengibaran bendera setengah tiang di depan Istana Kepresidenan.
- 09.30 WIB – Kedatangan delegasi keluarga almarhum, termasuk putra-putri dan menantu.
- 10.15 WIB – Pengumuman resmi tentang penyebab kematian oleh Kementerian Kesehatan.
- 11.00 WIB – Upacara pemakaman di kompleks makam Imam Khomeini, diiringi orasi singkat oleh pejabat tinggi.
- 12.30 WIB – Perarakan massal menuju Masjid Jameh, di mana para pemimpin agama menyalakan lilin sebagai tanda penghormatan.
Slogan-slogan yang terdengar meliputi “Balas Dendam untuk Kematian Khamenei!”, “Iran Tidak Akan Pernah Lupakan!” dan “Kita Bersatu Menentang Penindasan!” Slogan‑slogan tersebut mencerminkan rasa frustrasi yang semakin menguat akibat sanksi internasional, krisis ekonomi, serta tuduhan campur tangan asing.
Para pengamat politik menilai bahwa fenomena ini menandakan peningkatan sentimen nasionalis dan potensi radikalisasi di kalangan massa. Mereka menekankan bahwa pemerintah perlu menyeimbangkan antara penghormatan kepada pemimpin yang wafat dengan mengendalikan narasi yang dapat memicu tindakan kekerasan.
Reaksi internasional masih terbatas. Beberapa negara menyatakan belasungkawa secara resmi, sementara organisasi hak asasi manusia menyoroti risiko meningkatnya ketegangan sosial di Iran pasca‑pemakaman.
Sejauh ini, otoritas keamanan Tehran telah menempatkan ribuan personel untuk menjaga ketertiban, mengantisipasi potensi bentrokan antara kelompok yang mengusung retorika balas dendam dengan aparat keamanan.
Dengan berlalunya beberapa minggu sejak pemakaman, suasana politik dalam negeri Iran diprediksi akan terus dipengaruhi oleh dinamika emosional yang muncul dari peristiwa ini, termasuk potensi aksi protes atau demonstrasi lain yang menuntut perubahan kebijakan.