Setapak Langkah – 07 Juni 2026 | Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, menyatakan bahwa dunia kini tengah beralih dari era globalisasi menuju deglobalisasi. Menurutnya, fenomena ini tidak hanya dirasakan oleh Indonesia, melainkan oleh banyak negara yang mengalami tekanan ekonomi, politik, dan sosial.
Peralihan dari Globalisasi ke Deglobalisasi
Globalisasi selama beberapa dekade terakhir telah memperkuat rantai pasok internasional, meningkatkan aliran modal, serta memperluas pasar bagi produk dan jasa. Namun, belakangan ini muncul kecenderungan penutupan pasar, proteksionisme, dan kebijakan nasionalistik yang menghambat arus perdagangan bebas.
Dampak Deglobalisasi bagi Indonesia
- Pergeseran Rantai Pasok: Industri manufaktur yang sangat bergantung pada impor bahan baku dapat menghadapi kenaikan biaya produksi.
- Penurunan Investasi Asing: Ketidakpastian kebijakan internasional dapat membuat investor ragu menanamkan modal di Indonesia.
- Persaingan Pasar Domestik: Produk lokal mendapat peluang lebih besar, namun harus meningkatkan kualitas untuk bersaing.
- Fluktuasi Nilai Tukar: Ketegangan geopolitik dapat memperburuk volatilitas mata uang.
Reaksi Dunia dan Tantangan Global
Beberapa negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Uni Eropa telah mengumumkan kebijakan yang menekankan kemandirian ekonomi serta penurunan ketergantungan pada rantai pasok lintas batas. Kebijakan tersebut mencakup peningkatan tarif, pembatasan ekspor teknologi kritis, dan dorongan pada produksi dalam negeri.
Di tengah situasi ini, Jusuf Kalla menekankan pentingnya kesiapan Indonesia untuk menyesuaikan strategi ekonomi, memperkuat sektor dalam negeri, serta meningkatkan daya saing melalui inovasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dengan mengantisipasi perubahan struktural ini, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat diharapkan dapat berkolaborasi dalam merumuskan kebijakan yang adaptif, sehingga Indonesia tetap dapat tumbuh meski berada dalam era deglobalisasi.