Setapak Langkah – 01 Juni 2026 | Serbau Bin Herman, yang lebih dikenal dengan panggilan Abu, berusia 39 tahun dan saat ini menjalani sisa masa tahanan satu tahun di Lapas Kelas I Tangerang. Di antara dinding beton penjara, ia menjelma menjadi figur yang jarang ditemui: seorang juara tinju yang menggabungkan disiplin olahraga dengan proses pembinaan narapidana.
Abu masuk penjara pada tahun 2018 setelah dijatuhi hukuman karena kasus narkotika. Selama masa tahanan, ia menemukan pelarian dalam olahraga tinju yang dipraktekkan di unit olahraga Lapas. Dengan bimbingan pelatih sipil dan petugas kepolisian, Abu mulai berlatih secara rutin, menyalurkan energi agresifnya menjadi teknik pukulan yang terukur.
Berbagai kompetisi internal dan antar‑lapas telah menorehkan prestasi mengesankan bagi Abu:
- Juara Lembaga Tinju Penjara Nasional 2020
- Medali Emas Lomba Tinju Intra‑Lapas Tingkat Provinsi 2021
- Penghargaan “Atlet Pembinaan Terbaik” oleh Direktorat Pembinaan Narapidana 2022
Prestasi tersebut tidak hanya meningkatkan rasa percaya diri Abu, tetapi juga menjadi bukti konkret bagaimana program pembinaan berbasis olahraga dapat menurunkan tingkat kekerasan dan meningkatkan reintegrasi sosial narapidana.
Timeline Perjalanan Tinju Abu
| Tahun | Kejuaraan / Prestasi |
|---|---|
| 2019 | Mulai latihan tinju di Lapas Tangerang |
| 2020 | Juara Lembaga Tinju Penjara Nasional |
| 2021 | Medali Emas Lomba Tinju Intra‑Lapas Provinsi |
| 2022 | Penghargaan Atlet Pembinaan Terbaik |
| 2025 | Target bebas bersyarat |
Menjelang akhir masa tahanannya, Abu menatap masa depan dengan harapan dapat melanjutkan karier tinjunya di luar tembok penjara. Ia berencana mengikuti program pelatihan di klub tinju lokal dan menargetkan debut di turnamen amatir regional. Namun, tantangan adaptasi sosial, stigma mantan narapidana, serta kebutuhan akan dukungan finansial menjadi hambatan yang harus diatasi.
Pihak Lapas Tangerang menyatakan bahwa keberhasilan Abu merupakan contoh terbaik dari efektivitas program pembinaan. Kepala Lapas, Komandan Polisi Budi Santoso, menekankan pentingnya kolaborasi antara institusi pemasyarakatan, pelatih profesional, dan masyarakat untuk memberikan kesempatan kedua kepada narapidana yang berpotensi.
Dengan sisa satu tahun masa tahanan, Abu berada di persimpangan antara masa lalu yang kelam dan harapan akan masa depan yang lebih cerah. Keberhasilannya dalam olahraga bukan sekadar trofi, melainkan simbol transformasi pribadi yang dapat menjadi inspirasi bagi banyak narapidana lainnya.