Setapak Langkah – 28 Mei 2026 | Teheran, 28 Mei 2026 – Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan pada Kamis, 28 Mei 2026, bahwa mereka telah melancarkan serangan balasan terhadap sebuah pangkalan udara milik Amerika Serikat (AS) yang terletak di Kuwait. Serangan ini dipicu oleh aksi udara AS yang beberapa hari sebelumnya menabrak wilayah Bandar Abbas, Iran, menewaskan sejumlah personel IRGC.
Berikut rangkaian aksi yang dilaporkan:
- Peluncuran tiga rudal balistik dari pangkalan IRGC di dekat Bandar Abbas menuju koordinat pangkalan udara di Kuwait.
- Penggunaan dua unit drone bersenjata yang menembus zona pertahanan udara Kuwait dan menabrak fasilitas penyimpanan amunisi di kompleks tersebut.
- Serangan berakhir dengan laporan kerusakan signifikan pada infrastruktur pangkalan, termasuk hangar pesawat dan sistem radar, tanpa konfirmasi korban jiwa di pihak AS.
Pihak militer Kuwait mengaku sedang melakukan evaluasi kerusakan dan menegaskan bahwa mereka akan meningkatkan kesiapan pertahanan udara. Sementara itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat belum memberikan komentar resmi terkait insiden tersebut, namun menyatakan akan “menindaklanjuti dengan langkah diplomatik dan militer yang tepat”.
Insiden ini menambah ketegangan yang sudah lama melanda hubungan antara Iran dan Amerika Serikat. Serangan AS di Bandar Abbas pada 24 Mei 2026 menargetkan fasilitas militer Iran yang diduga menyimpan persediaan senjata kimia, menewaskan tiga personel IRGC dan melukai beberapa lainnya. Iran menuduh aksi tersebut melanggar hukum internasional dan mengancam stabilitas regional.
Para pengamat geopolitik menilai bahwa aksi balasan IRGC menandai eskalasi baru dalam konfrontasi militer tidak langsung antara kedua negara. “Kedua pihak tampaknya berada di jalur yang sama, yakni penggunaan senjata jarak jauh untuk menekan lawan tanpa terlibat dalam konflik konvensional,” ujar Dr. Ahmad Rahimi, pakar hubungan internasional Universitas Teheran.
Di tingkat regional, Kuwait, yang berperan sebagai sekutu utama Amerika Serikat di Teluk, menyatakan kesiapan untuk berkoordinasi dengan sekutu-sekutunya guna mengamankan wilayahnya. Pemerintah Iran, di sisi lain, menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan tindakan defensif yang sah dalam menanggapi agresi luar negeri.
Jika ketegangan terus berlanjut, kemungkinan besar akan muncul panggilan internasional untuk menengahi konflik melalui forum seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa atau Organisasi Kerjasama Islam. Namun, hingga kini belum ada sinyal adanya perundingan damai.