Setapak Langkah – 13 Juli 2026 | Iran kembali melancarkan serangan terhadap instalasi militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Teluk Persian setelah serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Washington ke wilayah Iran pada akhir pekan lalu. Serangan Amerika, yang diklaim sebagai respons terhadap dugaan aktivitas militer Iran yang melanggar perjanjian gencatan senjata, menewaskan sejumlah personel militer dan menimbulkan kerusakan infrastruktur penting.
Sebagai balasan, Angkatan Udara dan Angkatan Laut Iran meluncurkan serangkaian serangan menggunakan drone bersenjata dan misil jelajah yang diarahkan ke lima pangkalan AS yang tersebar di negara‑negara Teluk. Berikut adalah rangkuman target yang dilaporkan:
- Arab Saudi – Pangkalan Prince Sultan Air Base di Al‑Kharj, yang menjadi pusat logistik dan operasional pasukan Amerika di wilayah tersebut.
- Uni Emirat Arab – Pangkalan Al‑Dhafra Air Base di Abu Dhabi, tempat penempatan pesawat tempur F‑35 dan sistem pertahanan udara.
- Kuwait – Pangkalan Al‑Udeid Air Base di Doha, Qatar (meskipun secara geografis berada di Qatar, pangkalan ini dikelola secara bersama‑sama dengan Kuwait dan menjadi hub utama operasi AS).
- Qatar – Pangkalan Al‑Udeid Air Base yang sama, sekaligus fasilitas logistik penting bagi koalisi.
- Bahrain – Pangkalan Naval Support Activity Bahrain yang melayani kapal perang dan kapal selam kelas Virginia.
Reaksi Amerika Serikat menegaskan bahwa mereka “akan menanggapi setiap ancaman” dan sedang mengevaluasi opsi balasan yang proporsional. Pentagon belum mengonfirmasi secara resmi tingkat kerusakan atau jumlah korban jiwa di pangkalan-pangkalan yang diserang.
Pengamat militer menilai bahwa eskalasi ini menambah ketegangan yang sudah lama terjadi di Teluk Persian, terutama setelah penandatanganan perjanjian gencatan senjata pada 2023 yang kini dipertanyakan keabsahannya. Mereka memperingatkan bahwa serangkaian aksi militer berulang dapat mengganggu stabilitas energi global, mengingat kawasan tersebut menjadi salah satu produsen minyak utama dunia.
Negara‑negara Teluk, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, telah mengeluarkan pernyataan yang menegaskan dukungan mereka terhadap kehadiran militer Amerika sebagai “penjaga keamanan regional”. Namun, mereka juga mengajak semua pihak untuk menahan diri dan menghindari konflik berskala lebih luas.
Situasi masih berkembang, dan komunitas internasional menunggu langkah selanjutnya dari kedua belah pihak. Upaya diplomatik melalui PBB dan negara‑negara ketiga diharapkan dapat meredam ketegangan sebelum berujung pada konfrontasi militer yang lebih intens.