Setapak Langkah – 18 April 2026 | Ketegangan geopolitik yang semakin intens di berbagai wilayah dunia menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan obat-obatan. Konflik dagang, sanksi ekonomi, serta gangguan rantai logistik global dapat menghambat aliran bahan baku farmasi penting, yang pada gilirannya mengancam ketersediaan produk akhir bagi konsumen.
Menanggapi situasi tersebut, GP Farmasi Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjadi penghubung efektif antara regulator dan pelaku usaha di sektor farmasi. Peran ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa regulasi tetap responsif, sementara pelaku industri dapat beroperasi dengan kelancaran yang diperlukan untuk menjaga pasokan obat tetap terjaga.
Langkah strategis GP Farmasi Indonesia
- Mengkoordinasikan dialog rutin antara Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta produsen farmasi domestik dan asing.
- Mengidentifikasi dan memetakan risiko rantai pasokan kritis, termasuk bahan baku aktif (API) yang banyak diproduksi di luar negeri.
- Mendorong diversifikasi sumber bahan baku melalui kerja sama dengan pemasok regional yang lebih stabil.
- Menjalin program pelatihan bagi perusahaan farmasi kecil dan menengah dalam hal kepatuhan regulasi dan manajemen risiko.
- Mengadvokasi kebijakan insentif pemerintah untuk produksi dalam negeri, termasuk fasilitas produksi bersertifikat GMP.
Dengan pendekatan tersebut, GP Farmasi Indonesia berharap dapat memperkuat ketahanan industri farmasi nasional, sekaligus menurunkan ketergantungan pada impor yang rentan terhadap fluktuasi geopolitik.
Selain itu, organisasi ini juga menekankan pentingnya transparansi data produksi dan distribusi obat, sehingga otoritas dapat melakukan monitoring secara real‑time dan mengambil tindakan cepat bila terjadi gangguan.