Setapak Langkah – 18 April 2026 | Blokade di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah dunia menimbulkan kekhawatiran bagi negara‑negara importir, termasuk Indonesia. Penutupan atau pembatasan lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut dapat mengganggu rantai pasokan, menaikkan harga, dan memaksa perusahaan energi mencari alternatif.
PT Pertamina (Persero) menyatakan bahwa situasi geopolitik Timur Tengah saat ini memaksa mereka untuk meninjau kembali sumber bahan baku. Sebagai langkah mitigasi, perusahaan mengidentifikasi negara‑negara di Afrika sebagai calon pemasok utama minyak mentah.
Berikut beberapa negara Afrika yang dipertimbangkan beserta tipe minyak yang dapat dipasok:
| Negara | Grade Minyak | Kapasitas (bbl/hari) |
|---|---|---|
| Aljazair | Light Sweet | 150,000 |
| Angola | Medium Sweet | 120,000 |
| Nigeria | Light Sweet | 180,000 |
| Libya | Medium Sour | 140,000 |
Pengalihan pasokan ke Afrika diperkirakan akan memerlukan penyesuaian logistik, termasuk rute pengiriman yang lebih panjang dan kemungkinan penambahan biaya transportasi. Namun, Pertamina menilai bahwa diversifikasi sumber dapat menurunkan risiko ketergantungan pada satu wilayah.
Dalam jangka pendek, perusahaan berencana melakukan kontrak pembelian terbatas untuk menguji kelancaran suplai dan kualitas minyak. Jika hasilnya memuaskan, volume impor dapat ditingkatkan secara bertahap hingga mencakup 15‑20% kebutuhan nasional dalam dua tahun ke depan.
Para analis pasar energi memperkirakan bahwa langkah ini dapat menstabilkan harga bahan bakar domestik, meskipun fluktuasi global tetap berpengaruh. Pemerintah diharapkan memberikan dukungan regulasi dan fasilitas pelabuhan untuk memperlancar arus masuk minyak dari Afrika.