Setapak Langkah – 07 Juli 2026 | Pak Dino Patti Djalal, mantan duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat, melontarkan kritik tajam terhadap keputusan pemerintah Indonesia yang tidak mengirim delegasi resmi ke upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran. Menurutnya, sikap tersebut mencerminkan ketakutan Indonesia terhadap tekanan geopolitik Amerika Serikat dan mengindikasikan kurangnya keberanian dalam menjalankan kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif.
Pernyataan Dino muncul setelah Iran mengumumkan pemakaman Khamenei pada akhir pekan lalu. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, menyatakan bahwa tidak ada agenda resmi untuk mengirim perwakilan negara ke acara tersebut. Keputusan ini menuai sorotan media domestik dan internasional, mengingat hubungan historis antara Indonesia dan Iran yang bersifat non‑blok serta kedekatan pada isu‑isu Islam dan anti‑imperialisme.
Dino menegaskan bahwa Indonesia seharusnya menegakkan prinsip kebijakan luar negeri bebas‑aktif, yakni tidak terikat pada blok manapun dan mampu mengambil sikap independen dalam urusan internasional. Ia menambahkan, “Jika Indonesia memang takut pada Amerika, mengapa tidak mengirim delegasi ke Iran, negara yang saat ini berada dalam tekanan keras dari Washington?” Pernyataan itu menimbulkan perdebatan sengit di kalangan akademisi, analis politik, dan aktivis masyarakat sipil.
Berikut beberapa poin penting yang diangkat dalam kritik Dino Patti Djalal:
- Keberanian Diplomatik: Dino menilai bahwa tidak mengirim delegasi ke Iran menunjukkan kurangnya keberanian Indonesia dalam menegakkan solidaritas terhadap sesama negara mayoritas Muslim yang sedang menghadapi sanksi Barat.
- Pengaruh Amerika: Ia berargumen bahwa keputusan tersebut dipengaruhi oleh tekanan Amerika Serikat, mengingat hubungan ekonomi dan militer yang masih erat antara kedua negara.
- Prinsip Bebas‑Aktif: Dino mengingatkan bahwa konstitusi Indonesia menegaskan kebijakan luar negeri yang bebas‑aktif, yang seharusnya memandu keputusan-keputusan seperti ini.
- Respon Publik: Beberapa kelompok masyarakat menilai keputusan pemerintah sebagai langkah pragmatis untuk menghindari ketegangan diplomatik, sementara yang lain menganggapnya sebagai penurunan nilai moral dan politik luar negeri Indonesia.
Reaksi resmi pemerintah menegaskan bahwa keputusan tidak mengirim delegasi adalah hasil pertimbangan diplomatik yang matang, mengingat sensitivitas situasi di Timur Tengah dan potensi dampak terhadap hubungan bilateral dengan negara‑negara lain. Menteri Luar Negeri menambahkan bahwa Indonesia tetap membuka jalur dialog dengan Iran melalui kanal diplomatik lain.
Di sisi lain, analis hubungan internasional menilai bahwa Indonesia berada pada posisi yang rumit. Di satu sisi, ada kebutuhan untuk menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat sebagai mitra dagang utama; di sisi lain, terdapat tekanan domestik untuk menunjukkan solidaritas kepada negara‑negara Muslim dan menegakkan prinsip non‑intervensi.
Kasus ini membuka pertanyaan lebih luas tentang arah kebijakan luar negeri Indonesia ke depan. Apakah Indonesia akan terus menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan nilai‑nilai politik, ataukah akan mengambil sikap lebih tegas dalam mendukung negara‑negara yang sedang berada di bawah tekanan Barat? Waktu akan menjawab, namun kritik Dino Patti Djalal telah menyoroti pentingnya konsistensi antara retorika kebijakan bebas‑aktif dan praktik nyata di panggung internasional.