Setapak Langkah – 04 Juni 2026 | Setelah 12 tahun memimpin Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana resmi dicopot dari jabatannya pada pertengahan 2024. Selama masa kepemimpinannya, ia kerap mengeluarkan pernyataan yang menimbulkan perdebatan publik, baik di kalangan ahli gizi, petani, maupun konsumen. Berikut lima pernyataan paling menonjol yang pernah ia sampaikan, dengan penekanan pada nomor dua yang dianggap paling absurd.
- Pentingnya Konsumsi Susu untuk Anak Sekolah
Dadan menegaskan bahwa susu adalah sumber protein utama yang tidak dapat digantikan oleh makanan lain bagi anak usia 6‑12 tahun. Pernyataannya menimbulkan protes dari kelompok vegan dan ahli gizi yang menilai bahwa diet seimbang dapat dipenuhi tanpa susu, terutama bagi anak dengan intoleransi laktosa. - Penggunaan Ulat sebagai Sumber Protein Alternatif dalam Program MBG
Dalam sebuah wawancara, Dadan mengusulkan bahwa ulat (cacing sutra) dapat dijadikan bahan utama dalam program Makanan Bergizi (MBG) untuk mengatasi kekurangan protein di daerah rawan pangan. Ide ini menuai kritik tajam karena dianggap tidak sesuai dengan selera masyarakat Indonesia dan menimbulkan risiko kesehatan bila tidak diproses dengan standar higienis yang ketat. Banyak pakar gizi menilai bahwa alternatif seperti kacang-kacangan atau tempe lebih realistis dan dapat diterima secara budaya. - Larangan Konsumsi Makanan Cepat Saji pada Siang Hari
Dadan pernah mengusulkan regulasi yang melarang penjualan makanan cepat saji (fast food) antara pukul 12.00‑15.00 di seluruh wilayah Indonesia. Kebijakan ini dianggap tidak praktis karena bertentangan dengan jam kerja banyak orang dan dapat menurunkan pendapatan pedagang kecil. - Peningkatan Anggaran Gizi Nasional Hingga 15% Dari APBN
Ia mengusulkan alokasi dana sebesar 15% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) khusus untuk program gizi, jauh melampaui standar internasional. Para anggota DPR menolak usulan ini dengan alasan prioritas anggaran yang lebih mendesak di bidang infrastruktur dan kesehatan. - Penggunaan Vitamin dalam Air Minum Kota
Dadan menyarankan agar pemerintah menambahkan suplemen vitamin D ke dalam jaringan distribusi air bersih kota untuk meningkatkan status gizi warga. Ide ini dipertanyakan karena risiko overdosis dan tantangan teknis dalam pencampuran vitamin ke dalam sistem air publik.
Meski beberapa pernyataannya mendapat dukungan dari kalangan tertentu, kombinasi antara kurangnya kajian ilmiah dan ketidaksesuaian budaya menyebabkan banyak kritik. Pencopotan Dadan Hindayana dipandang sebagai langkah untuk menenangkan publik dan memberi ruang bagi kebijakan gizi yang lebih berbasis data.