Setapak Langkah – 15 Juni 2026 | Dalam sebuah pernyataan yang cukup tajam, tokoh politik senior Cak Imin menyoroti kegagalan seluruh pemimpin Indonesia selama dua dekade terakhir. Ia menuding bahwa banyak di antara mereka lebih mengutamakan pencitraan publik daripada kebijakan substantif, sehingga pada akhirnya tidak mampu menghasilkan perubahan nyata.
Cak Imin menegaskan bahwa selama 20 tahun terakhir, pemerintahan yang beralih dari satu era ke era berikutnya tidak menunjukkan kemajuan signifikan dalam bidang ekonomi, infrastruktur, maupun kesejahteraan sosial. Menurutnya, “semua pemimpin itu akhirnya gagal. Semua pencitraannya hanyalah omong kosong.”
Beberapa poin utama yang diangkatnya meliputi:
- Pencitraan berlebih: Pemimpin cenderung mengadakan acara megah, kampanye visual, dan janji-janji yang tidak terwujud.
- Kebijakan tidak konsisten: Program-program yang diluncurkan sering kali terhenti atau berubah arah tanpa evaluasi yang jelas.
- Kurangnya akuntabilitas: Masyarakat merasa suaranya tak didengar karena tidak ada mekanisme pengawasan yang efektif.
Selain mengkritik, Cak Imin juga mengajak semua elemen bangsa untuk menuntut transparansi dan kinerja nyata dari para pemimpin. Ia menekankan pentingnya menilai pemimpin bukan dari citra semata, melainkan dari hasil konkrit yang dapat dirasakan oleh rakyat.
Pernyataan ini memicu beragam reaksi di kalangan politik, akademisi, dan masyarakat luas. Beberapa pihak menyambut baik kritik tersebut sebagai panggilan untuk introspeksi, sementara yang lain menganggapnya berlebihan dan tidak memperhitungkan tantangan struktural yang dihadapi pemerintah.
Dalam konteks politik Indonesia yang dinamis, kritik semacam ini menambah wacana tentang kualitas kepemimpinan dan kebutuhan reformasi sistemik. Jika aspirasi publik untuk kepemimpinan yang lebih bertanggung jawab terus menguat, maka tekanan terhadap politisi untuk mengesampingkan pencitraan semata dan fokus pada kebijakan yang berdampak dapat menjadi pendorong perubahan yang signifikan.