Setapak Langkah – 18 Juni 2026 | Veteran politik Partai NasDem, Bestari Barus, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang menimbulkan perbincangan luas di kalangan pengamat politik. Menurutnya, ribuan netizen yang sebelumnya tidak terafiliasi dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tiba‑tiba mengakses situs resmi PSI setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara tidak langsung menimbulkan efek halo pada partai tersebut.
Barus menegaskan bahwa fenomena peningkatan kunjungan tersebut bukan semata‑mata karena program atau kebijakan PSI, melainkan lebih dipicu oleh popularitas Jokowi yang masih kuat di kalangan pemilih muda. Ia menyebutkan bahwa banyak pengguna media sosial yang mengaitkan dukungan mereka kepada PSI dengan harapan kebijakan yang pro‑pemuda dan progresif, yang ia anggap selaras dengan citra Presiden.
- Ribuan orang dilaporkan melakukan login pada portal PSI dalam rentang satu minggu terakhir.
- Lonjakan ini bertepatan dengan munculnya isu penyematan jaket PSI pada foto resmi Jokowi, yang kemudian menjadi perbincangan viral.
- Bestari Barus menilai bahwa efek “Jokowi” menjadi katalisator utama, bukan strategi kampanye PSI.
Selain menyoroti peningkatan trafik, Barus juga menyinggung kontroversi jaket PSI yang sempat dipasang pada gambar Presiden. Menurutnya, penyematan tersebut menimbulkan interpretasi bahwa Jokowi secara resmi mendukung PSI, padahal tidak ada pernyataan resmi dari Istana. Barus memperingatkan bahwa penggunaan simbol politik semacam itu dapat menimbulkan kebingungan di antara pemilih.
Respons dari pihak PSI sendiri belum secara resmi dikonfirmasi, namun beberapa tokoh partai menanggapi bahwa mereka menghargai peningkatan minat publik dan menegaskan bahwa kebijakan partai tetap berlandaskan pada nilai‑nilai kebebasan, keadilan, dan inovasi.
Pengamat politik menilai pernyataan Barus sebagai contoh dinamika politik Indonesia yang semakin dipengaruhi oleh personal brand tokoh nasional. Mereka menambahkan bahwa efek “Jokowi” dapat menjadi pedang bermata dua, memberi keuntungan jangka pendek namun sekaligus menimbulkan ekspektasi tinggi yang sulit dipenuhi.