Setapak Langkah – 18 April 2026 | Menteri Investasi Bahlil Ekamta menegaskan bahwa pemerintah tengah mengamankan pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan gas cair (LPG) dari Rusia untuk mengatasi kekurangan energi nasional.
Kerjasama ini dirancang sebagai respons terhadap dinamika pasar global, termasuk sanksi internasional yang membatasi akses Indonesia ke sumber energi tradisional. Pemerintah menargetkan volume tertentu (misalnya 5 juta liter BBM dan 1 juta ton LPG per tahun) yang akan diimpor melalui perjanjian jangka panjang, meskipun angka pasti belum dipublikasikan.
Ahli energi, Ridho Hantoro, menilai langkah ini masuk akal. Menurutnya, diversifikasi sumber energi merupakan strategi penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan menekan fluktuasi harga domestik.
- Menjamin ketersediaan BBM dan LPG untuk sektor transportasi, industri, dan rumah tangga.
- Menurunkan ketergantungan pada satu wilayah pemasok.
- Memberikan ruang negosiasi harga yang lebih kompetitif.
Selain manfaat ekonomi, kolaborasi dengan Rusia juga membuka peluang transfer teknologi dalam bidang penanganan energi fosil dan infrastruktur penyimpanan. Pemerintah berencana mengintegrasikan pasokan ini dengan program energi terbarukan, sehingga transisi energi nasional dapat berjalan secara seimbang.
Ridho Hantoro menambahkan bahwa kebijakan ini harus disertai dengan mekanisme pengawasan yang ketat untuk mencegah potensi penyalahgunaan dana dan memastikan kualitas produk yang diimpor. Ia menyarankan adanya transparansi dalam proses tender serta audit reguler oleh lembaga independen.
Secara keseluruhan, upaya Bahlil mengamankan pasokan BBM dan LPG dari Rusia dipandang sebagai langkah strategis yang rasional dalam rangka memenuhi kebutuhan energi negara sambil tetap mengedepankan prinsip efisiensi dan keberlanjutan.