Setapak Langkah – 21 April 2026 | Pemerintahan Amerika Serikat mengungkapkan keprihatinannya atas kemungkinan harga bensin naik di atas batas tiga dolar per galon. Kenaikan tersebut diprediksi dapat menimbulkan tekanan politik yang signifikan, terutama menjelang pemilihan umum tengah dan akhir masa jabatan presiden.
Para pembuat kebijakan menilai bahwa lonjakan harga bahan bakar akan memperburuk beban inflasi rumah tangga, memicu ketidakpuasan publik, dan menjadi senjata bagi oposisi. Sejarah menunjukkan bahwa pada krisis energi 2008, peningkatan harga minyak berujung pada demonstrasi massa dan penurunan dukungan politik bagi pemerintahan saat itu.
Untuk mengantisipasi skenario tersebut, Departemen Energi serta Biro Kebijakan Ekonomi sedang menyiapkan serangkaian langkah, antara lain memperluas subsidi sementara, meningkatkan produksi dalam negeri, dan mempercepat transisi ke energi terbarukan. Namun, kebijakan ini harus diseimbangkan dengan kepentingan industri migas yang kuat dan tekanan pasar global.
Pengamat politik menilai bahwa respons pemerintah terhadap kenaikan harga bensin akan menjadi ukuran penting bagi persepsi kemampuan kepemimpinan dalam mengelola krisis ekonomi. Jika respons dianggap lemah, partai yang berkuasa berisiko kehilangan dukungan pemilih di wilayah swing states yang sensitif terhadap perubahan harga energi.