Setapak Langkah – 18 Agustus 2026 | Jakarta, 26 Agustus 2023 – Sejumlah mahasiswa melakukan aksi demonstrasi di depan Gedung Universitas Omar Bakri (UOB) pada sore hari, yang kemudian berubah menjadi kericuhan antara massa dan aparat kepolisian. Demonstran dilarang masuk ke Bunderan HI oleh pihak berwenang, sementara sejumlah pihak berupaya menghentikan jalannya aksi.
Kerusuhan dimulai ketika sekelompok mahasiswa menggelar rapat di area sekitar Bunderan HI, menuntut kebijakan tertentu terkait pendidikan tinggi. Polisi kemudian menutup akses ke bunderan dengan memasang barikade, sehingga demonstran terpaksa beralih ke depan Gedung UOB. Pada saat itu, massa mulai melempar barang dan bersorak, sementara aparat menanggapi dengan penggunaan gas air mata dan pengereman massa secara fisik.
Dalam situasi yang memanas, seorang mahasiswa Universitas HAMKA (UHAMKA) dilaporkan pingsan. Mahasiswa tersebut segera dibawa ke ambulans oleh petugas medis di lokasi dan dibawa ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hingga saat penulisan, kondisi medisnya belum diumumkan secara resmi.
Berita mengenai aksi ini juga memicu reaksi tegas dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI). BEM UI menyatakan bahwa tuntutan demonstran harus disampaikan secara damai dan menolak segala bentuk kekerasan. Mereka menegaskan komitmen untuk menahan diri dari aksi yang dapat mengganggu ketertiban umum dan meminta pihak berwenang memberikan penjelasan terkait larangan masuk ke Bunderan HI.
Berikut adalah beberapa poin utama yang menjadi fokus aksi demonstrasi:
- Penolakan kebijakan tertentu yang dianggap merugikan hak mahasiswa.
- Permintaan transparansi dalam pengelolaan dana pendidikan.
- Penegakan kebebasan berpendapat tanpa intervensi aparat.
Pihak kepolisian menyatakan bahwa tindakan penutupan akses Bunderan HI diambil demi menjaga keamanan dan ketertiban publik. Mereka menegaskan akan terus memantau situasi dan menindak tegas siapa saja yang melanggar peraturan.
Kasus pingsan mahasiswa UHAMKA menambah kekhawatiran akan potensi bahaya kesehatan dalam aksi massa. Organisasi kemahasiswaan mengimbau agar seluruh pihak menurunkan intensitas aksi dan menyelesaikan permasalahan melalui dialog terbuka.