Setapak Langkah – 04 Mei 2026 | Pada awal Maret, setelah lebih dari satu tahun menahan diri secara strategis, Hizbullah menampilkan serangkaian taktik yang mengekspos kelemahan Israel serta menyoroti kurangnya pemahaman mendalam tentang sifat perlawanan yang dapat pulih dengan cepat. Enam strategi utama yang kini menjadi fokus operasi mereka meliputi kombinasi pendekatan tradisional dan teknologi mutakhir.
- Kesabaran Strategis: Hizbullah memilih menunggu kondisi geopolitik yang menguntungkan, mengumpulkan intelijen, memperkuat posisi logistik, dan menunggu momentum politik sebelum melancarkan serangan besar.
- Mobilisasi Jaringan Propaganda: Penggunaan media sosial, siaran radio, dan jaringan informan lokal untuk menyebarkan narasi perlawanan, mempengaruhi opini publik, serta menimbulkan kebingungan di pihak Israel.
- Serangan Gerilya di Jalur Darat: Penempatan tim taktis di pegunungan dan daerah pedalaman untuk melancarkan serangan mendadak, sabotase jalur suplai, serta penempatan ranjau anti-tank.
- Eksploitasi Sistem Pertahanan Udara Israel: Mengidentifikasi celah dalam pertahanan Iron Dome dan sistem pertahanan lainnya, lalu menyesuaikan pola tembakan roket untuk memaksimalkan penetrasi.
- Operasi Siber dan Informasi: Penyerangan terhadap jaringan komunikasi militer Israel, pencurian data, serta penyebaran malware yang mengganggu sistem perintah dan kontrol.
- Penggunaan Drone Serat Optik: Pengembangan dan penyebaran drone berbasis teknologi serat optik yang memungkinkan transmisi data real‑time berkecepatan tinggi, memperkuat kemampuan pengintaian, serta mendukung serangan presisi pada target strategis.
Dengan menggabungkan elemen tradisional seperti taktik gerilya dan kesabaran politik, serta memanfaatkan inovasi teknologi tinggi seperti drone serat optik, Hizbullah berupaya menciptakan tekanan berkelanjutan terhadap pasukan Zionis. Pendekatan multidimensi ini tidak hanya menantang kemampuan militer Israel, tetapi juga menegaskan pergeseran dinamika konflik di wilayah tersebut.