Setapak Langkah – 11 Juli 2026 | Setelah berminggu‑minggu terjepit oleh ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, situasi di kawasan Teluk Persia mulai menunjukkan tanda‑tanda peredaan. Kedua negara meluncurkan serangkaian dialog diplomatik yang menghasilkan penurunan ancaman militer di wilayah Selat Hormuz, jalur pelayaran utama bagi hampir setengah produksi minyak dunia.
Perubahan dinamika ini langsung memengaruhi pasar komoditas, terutama minyak mentah. Harga Brent turun dari US$84,50 per barel pada Senin menjadi sekitar US$78,30 pada Rabu, mencatat penurunan lebih dari 7 %. Penurunan serupa juga terlihat pada harga minyak West Texas Intermediate (WTI), yang melambat dari US$81,20 menjadi US$75,10 per barel.
| Hari | Brent (USD/barel) | WTI (USD/barel) |
|---|---|---|
| Senin | 84,50 | 81,20 |
| Rabu | 78,30 | 75,10 |
Para analis menilai bahwa penurunan ketegangan mengembalikan kepercayaan pelaku pasar. Investor yang sebelumnya menahan posisi beli karena kekhawatiran gangguan pasokan kini mulai menyesuaikan portofolio mereka, menurunkan permintaan kontrak berjangka.
Selain faktor politik, data permintaan minyak global yang menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat pada kuartal kedua 2024 turut memperkuat tekanan ke bawah. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pertumbuhan permintaan global hanya 1,2 % tahun ini, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 2 %.
Meski harga turun, sebagian besar produsen minyak utama, termasuk OPEC+, menegaskan komitmen mereka untuk menjaga keseimbangan pasokan. Mereka menyatakan bahwa kebijakan produksi tidak akan diubah secara drastis kecuali terjadi perubahan signifikan pada permintaan atau gejolak geopolitik.
Ke depannya, pasar akan terus memantau perkembangan dialog AS‑Iran serta kebijakan produksi OPEC+. Jika negosiasi berhasil mempertahankan keamanan pelayaran di Selat Hormuz, kemungkinan harga minyak akan tetap berada pada kisaran menengah, namun risiko baru seperti fluktuasi mata uang atau perubahan kebijakan moneter global tetap dapat memicu volatilitas.