Setapak Langkah – 24 Juni 2026 | Peneliti Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yanu Endar Prasetyo, memaparkan temuan terbaru hasil riset spasial mengenai penyebaran Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia.
Riset ini menggunakan data resmi pemerintah tentang lokasi dapur MBG yang beroperasi antara tahun 2022 hingga 2024, dipadukan dengan peta kemiskinan berbasis survei rumah tangga. Analisis dilakukan dengan sistem informasi geografis (GIS) untuk mengidentifikasi pola konsentrasi dapur terhadap tingkat kemiskinan di masing‑masing provinsi.
Hasil utama menunjukkan bahwa provinsi di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, memiliki jumlah dapur MBG yang paling banyak. Sebaliknya, wilayah dengan tingkat kemiskinan yang lebih tinggi, seperti sebagian besar provinsi di Sumatera, Kalimantan, dan Papua, justru memiliki sedikit dapur MBG.
| Provinsi | Jumlah Dapur MBG | Persentase Penduduk Miskin |
|---|---|---|
| Jawa Barat | 150 | 5% |
| Jawa Tengah | 120 | 7% |
| Jawa Timur | 130 | 6% |
| Sumatera Utara | 30 | 12% |
| Kalimantan Tengah | 20 | 15% |
| Papua | 10 | 18% |
“Konsentrasi dapur MBG di Jawa lebih dipengaruhi oleh faktor logistik dan kemudahan akses infrastruktur, bukan semata‑mata kebutuhan berbasis kemiskinan,” ujar Yanu Endar Prasetyo dalam presentasinya. Ia menambahkan bahwa kebijakan penyaluran bantuan gizi gratis masih cenderung terpusat pada daerah‑daerah yang secara administratif lebih siap menerima program, meski tingkat kemiskinan di sana lebih rendah.
Para pakar kebijakan menyarankan agar alokasi dapur MBG dipertimbangkan kembali dengan mengutamakan indikator kemiskinan dan aksesibilitas penduduk miskin. Beberapa langkah yang diusulkan meliputi:
- Pemetaan ulang kebutuhan gizi berbasis data kemiskinan yang lebih mutakhir.
- Peningkatan dukungan logistik di daerah terpencil, termasuk penyediaan transportasi dan listrik.
- Keterlibatan pemerintah daerah dan LSM setempat dalam perencanaan lokasi dapur.
Jika rekomendasi tersebut diimplementasikan, diharapkan distribusi dapur MBG dapat lebih merata, sehingga manfaat gizi gratis dapat dirasakan oleh masyarakat yang paling membutuhkan, tidak hanya oleh wilayah yang sudah memiliki infrastruktur memadai.