Setapak Langkah – 22 Juni 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada hari ini menerima kunjungan seorang profesor terkemuka dari Imperial College London, Inggris, di Istana Kepresidenan, Jakarta. Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Inggris, khususnya dalam bidang maritim dan pendidikan tinggi.
Dalam diskusi yang berlangsung selama sekitar satu jam, kedua pihak menegaskan komitmen bersama untuk memperdalam kemitraan strategis. Fokus utama dibahas meliputi:
- Pengembangan sektor maritim: Kolaborasi dalam riset kelautan, teknologi kapal hijau, serta pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.
- Peningkatan kualitas pendidikan: Program pertukaran mahasiswa dan dosen, pengembangan kurikulum berbasis riset, serta beasiswa bagi talenta Indonesia yang ingin melanjutkan studi di Imperial College.
- Inovasi dan teknologi: Kerjasama dalam bidang kecerdasan buatan, energi terbarukan, dan manufaktur maju yang dapat diimplementasikan pada industri maritim nasional.
Presiden Prabowo menekankan bahwa Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memerlukan dukungan ilmiah dan teknologi mutakhir untuk mengoptimalkan potensi lautnya. Ia juga menyampaikan harapan agar kerjasama ini dapat membuka peluang investasi Inggris di sektor maritim Indonesia.
Sementara itu, sang profesor menegaskan kesiapan Imperial College untuk berbagi pengetahuan, fasilitas laboratorium, serta jaringan akademik global. Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan Indonesia dapat memperkaya perspektif penelitian tentang perubahan iklim dan keamanan pangan laut.
Pertemuan ini juga menjadi kelanjutan dari dialog yang sebelumnya dilakukan di 10 Downing Street, Inggris, dimana kedua negara sepakat memperluas kerja sama di bidang pendidikan dan riset. Dengan adanya pertemuan di istana, diharapkan rencana-rencana tersebut dapat segera diimplementasikan melalui MoU dan program kerja konkret.
Para pengamat menilai bahwa langkah ini menandai era baru dalam hubungan Indonesia-Inggris, dengan menitikberatkan pada inovasi dan pembangunan berkelanjutan. Jika berhasil, model kemitraan ini dapat dijadikan contoh bagi negara-negara lain dalam mengoptimalkan sumber daya alam dan pengetahuan akademik.