Setapak Langkah – 20 Juni 2026 | Stroke tetap menjadi salah satu penyebab kematian dan kecacatan paling signifikan di Indonesia. Baru-baru ini, dokter spesialis saraf subspesialis neurokritikal dan intensif dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) menekankan bahwa kombinasi faktor genetik dan kebiasaan hidup sehari-hari berperan besar dalam meningkatkan risiko terjadinya stroke.
Di sisi lain, gaya hidup modern yang kurang seimbang turut memperparah potensi risiko. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, pola makan tinggi lemak jenuh, serta kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan tekanan darah dan kadar gula darah, dua faktor utama yang memicu gangguan aliran darah ke otak.
Berikut rangkuman faktor risiko yang paling sering diidentifikasi:
- Riwayat keluarga dengan stroke atau penyakit jantung
- Tekanan darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol
- Kadar kolesterol LDL tinggi dan trigliserida berlebih
- Diabetes mellitus
- Merokok dan paparan asap rokok
- Konsumsi alkohol berlebihan
- Pola makan tinggi garam, gula, dan lemak jenuh
- Kurangnya aktivitas fisik rutin
Upaya pencegahan yang disarankan meliputi pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk memantau tekanan darah, kadar lipid, dan gula darah; mengadopsi pola makan seimbang dengan meningkatkan asupan buah, sayur, dan biji-bijian; serta berolahraga setidaknya 150 menit per minggu dengan intensitas sedang. Selain itu, berhenti merokok dan membatasi konsumsi alkohol menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko.
Para peneliti menegaskan pentingnya edukasi publik mengenai kombinasi faktor genetik dan perilaku hidup. Dengan deteksi dini dan perubahan kebiasaan, beban stroke di Indonesia dapat ditekan secara signifikan, meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.