Setapak Langkah – 01 Mei 2026 | Ketua Dewan Direktur Great Institute, Syahganda Nainggolan, menyatakan bahwa perombakan atau reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto bertujuan untuk memperkuat koalisi pemerintahan dan menstabilkan dinamika politik internal.
- Penyesuaian posisi menteri agar lebih selaras dengan prioritas kebijakan pemerintah.
- Peningkatan dukungan parlemen melalui penempatan tokoh-tokoh yang memiliki jaringan luas di DPR.
- Merespons kritik publik terkait kinerja kementerian tertentu yang dianggap kurang efektif.
Reshuffle ini mencakup pergantian sejumlah jabatan strategis, termasuk Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, serta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Penggantian tersebut diharapkan dapat membawa sinergi baru dalam pelaksanaan program-program utama pemerintah, seperti reformasi birokrasi, pembangunan infrastruktur, dan upaya memperkuat pertahanan nasional.
Pengamat politik lain menilai bahwa langkah ini juga merupakan upaya Prabowo untuk mengkonsolidasikan kekuatan partai koalisi, terutama menjelang pemilihan legislatif yang akan datang. Dengan menempatkan tokoh-tokoh yang memiliki basis dukungan kuat, Presiden berpotensi memperkuat posisi koalisi dalam menghadapi oposisi.
Namun, ada pula skeptisisme di kalangan pengamat yang memperingatkan bahwa reshuffle yang terlalu sering dapat menimbulkan ketidakstabilan administratif dan menurunkan moral pejabat yang digantikan. Mereka menekankan pentingnya transparansi dalam proses penunjukan serta kejelasan mandat bagi para menteri baru.
Secara keseluruhan, reshuffle kabinet ini dipandang sebagai langkah taktis Prabowo untuk menyatukan kekuatan politik, meningkatkan efektivitas pemerintahan, dan mempersiapkan tantangan politik ke depan.