Setapak Langkah – 22 April 2026 | Setelah aksi mogok kerja (sidak) yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Prabowo Subianto pada akhir pekan lalu, pernyataan akademisi muncul menegaskan validitas data stok beras nasional.
Hermanto Siregar, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, menjelaskan bahwa metodologi perhitungan stok beras yang digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pertanian telah melalui proses verifikasi silang dengan data lapangan dan hasil survei komoditas utama.
Berikut poin‑poin utama yang disampaikan oleh Hermanto:
- Stok beras nasional mencakup persediaan di gudang pemerintah, stok cadangan strategis, serta persediaan di sektor swasta.
- Data yang dirilis pada kuartal terakhir menunjukkan total stok mencapai sekitar 34,5 juta ton, yang masih di atas level kritis yang ditetapkan pemerintah (30 juta ton).
- Penyesuaian stok bulanan dilakukan dengan memperhitungkan produksi, konsumsi, dan ekspor‑impor beras secara real‑time.
Data rinci dapat dilihat pada tabel berikut:
| Bulan | Stok (juta ton) | Keterangan |
|---|---|---|
| Januari 2024 | 34,2 | Stok awal tahun |
| Februari 2024 | 34,5 | Peningkatan produksi daerah Jawa Barat |
| Maret 2024 | 34,3 | Penyesuaian ekspor |
Hermanto menambahkan bahwa laporan yang dipublikasikan pemerintah tidak mengandung manipulasi angka, melainkan mencerminkan kondisi riil lapangan. Ia menekankan pentingnya transparansi data untuk menjaga kepercayaan publik dan menghindari spekulasi pasar.
Sejumlah pengamat ekonomi juga mengapresiasi penjelasan tersebut, menyatakan bahwa validitas data stok beras menjadi dasar kebijakan harga dan program bantuan pangan. Dengan stok yang masih berada pada level aman, pemerintah diperkirakan dapat menahan tekanan inflasi pangan pada kuartal mendatang.
Meski demikian, Hermanto mengingatkan bahwa faktor cuaca ekstrem dan gangguan pasokan di beberapa daerah tetap menjadi risiko yang harus dipantau secara intensif.