Setapak Langkah – 17 April 2026 | Parlemen Iran baru-baru ini mengungkapkan proyeksi pendapatan negara yang berasal dari “pengelolaan” Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran strategis dunia. Menurut estimasi resmi, Iran berpotensi memperoleh antara USD 10 hingga USD 15 miliar setiap tahunnya dari kegiatan ini, yang setara dengan kisaran Rp 150 hingga Rp 225 triliun dengan kurs rata‑rata 1 USD = 15.000 IDR. Namun, dengan memperhitungkan nilai tukar pasar yang lebih tinggi, angka tersebut dapat melonjak hingga mencapai sekitar Rp 258 triliun.
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, dan menjadi jalur utama bagi transportasi minyak bumi dunia. Sekitar sepertiga produksi minyak global melewati selat ini setiap hari, menjadikannya titik kritis bagi stabilitas energi internasional. Iran, sebagai pemilik wilayah di kedua tepi selat, berupaya memaksimalkan manfaat ekonominya melalui berbagai mekanisme, termasuk pungutan biaya pelayaran, tarif transit, serta layanan keamanan dan navigasi.
| Rentang Pendapatan (USD) | Estimasi dalam Rupiah (Triliun) |
|---|---|
| USD 10 miliar | Rp 150 triliun (dengan kurs 1 USD = 15.000 IDR) |
| USD 15 miliar | Rp 225 triliun (dengan kurs 1 USD = 15.000 IDR) |
| USD 15 miliar (kurs tinggi) | Rp 258 triliun (dengan kurs 1 USD ≈ 17.200 IDR) |
Potensi pendapatan sebesar itu memiliki implikasi signifikan bagi perekonomian Iran. Dana yang dihasilkan dapat dialokasikan untuk memperkuat anggaran negara, mendanai proyek infrastruktur, serta menstabilkan cadangan devisa yang selama ini tertekan akibat sanksi internasional. Selain itu, peningkatan pendapatan dapat memperkuat posisi tawar Iran dalam negosiasi geopolitik, terutama terkait keamanan maritim dan kontrol atas aliran energi.
Namun, realisasi pendapatan maksimum tidak terlepas dari tantangan. Ketegangan politik di kawasan, risiko keamanan pelayaran, serta dinamika harga minyak dunia dapat memengaruhi volume lalu lintas dan tarif yang dapat dikenakan. Selain itu, keberlanjutan sanksi ekonomi oleh negara‑negara Barat dapat membatasi kemampuan Iran untuk memanfaatkan sepenuhnya potensi finansialnya.
Secara keseluruhan, estimasi pendapatan hingga Rp 258 triliun menegaskan betapa pentingnya Selat Hormuz bagi ekonomi Iran. Jika dikelola secara optimal, selat ini tidak hanya menjadi sumber devisa yang signifikan, tetapi juga instrumen strategis dalam memperkuat kemandirian ekonomi nasional.