Setapak Langkah – 10 Agustus 2026 | Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan bahwa sekitar 50.000 tentara Korea Utara telah siap untuk bergabung dalam operasi militer mendukung Rusia di wilayah konflik Ukraina. Pernyataan tersebut muncul dalam sebuah wawancara televisi, di mana Zelensky menekankan ancaman baru yang muncul akibat bantuan personel militer dari Pyongyang.
Korea Utara, yang selama ini menjadi sekutu strategis Rusia, diyakini telah mengirim pasukan khusus serta tenaga kerja logistik untuk memperkuat front Rusia. Dukungan ini mencerminkan hubungan politik dan militer yang semakin erat antara kedua negara, terutama setelah sanksi internasional semakin menekan Rusia.
Menanggapi perkembangan tersebut, pemerintah Ukraina secara resmi meminta bantuan militer dan keamanan dari Republik Korea (Korea Selatan). Ukraina menyoroti kebutuhan mendesak akan peralatan pertahanan udara, sistem radar, pelatihan pasukan, serta dukungan intelijen untuk menghadapi kemungkinan peningkatan ancaman dari pasukan Korea Utara yang bersekutu dengan Rusia.
- Pengadaan sistem pertahanan udara jarak pendek dan menengah
- Transfer teknologi radar dan sensor dini
- Pelatihan taktik pertahanan urban bagi pasukan Ukraina
- Bantuan logistik dan medis untuk korban konflik
Korea Selatan belum memberikan komentar resmi mengenai permintaan tersebut, namun para analis memperkirakan bahwa Seoul akan mempertimbangkan langkah-langkah yang sejalan dengan kebijakan keamanan regional dan komitmen aliansinya dengan Amerika Serikat.
Reaksi internasional beragam. Beberapa negara Barat menyambut baik kemungkinan keterlibatan Korea Selatan sebagai penyeimbang kekuatan, sementara negara-negara yang memiliki hubungan dekat dengan Rusia menilai langkah tersebut dapat memperburuk ketegangan geopolitik di Asia Timur.
Jika bantuan Korea Selatan disetujui, dampaknya dapat mengubah dinamika konflik di Ukraina dengan menambah kemampuan pertahanan yang signifikan. Namun, hal itu juga berpotensi memicu respons balasan dari Rusia dan Korea Utara, yang dapat memperluas lingkup ketegangan militer ke wilayah Indo-Pasifik.